Manusia harus mempunyai pedoman, agar hidupnya
terarah. Agar tidak goyah menghadapi rintangan-rintangan yang dihadapi dalam
proses perjalanan hidup. Oleh karena itu setiap aktifitas hidup pun perlu
dibimbing oleh pedoman atau teori yang ada.
Dunia pergerakan sebagai sebuah profesi
revolusioner yang telah atau sedang dan yang akan kita geluti untuk membebaskan
rakyat dari penindasan dan penghisapan kaum penindas pun memerlukan panduan
berupa logika berpikir, tentunya logika berpikir yang sudah teruji keampuhannya
dalam merontokan sistem penindasan. Adagium Rusia berkata: " Tidak ada
gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner “, adalah benar tentunya.
Persoalan
logika berpikir adalah masalah hubungan antara pikiran dan keadaan, atau antara ide (pikiran) dengan materi.
Antara mana yang lebih dahulu (primer) dan sekunder antara ide dan materi?
Dengan logika berpikir maka kita akan bisa memilah persoalan, membuat
prioritas-prrioritas tentang hal-hal yang mendesak yang harus dilakukan seorang
aktivis gerakan untuk perubahan.
Jawaban
atas pertanyaan ini membagi dua aliran filsafat yaitu: Idealisme
dan Materialisme.
Idealisme
memandang bahwa ide lebih dahulu
(primer), kemudian disusul oleh materi (sekunder).
Materialisme
memandang sebaliknya. Materi
dahulu (primer), baru melahirkan ide (sekunder)
IDEALISME
Filsafat
idealisme terbagi menjadi dua sebagai
berikut :
Idealisme
Obyektif yaitu idealisme
yang memandang bahwa terdapat ide yang berada di luar eksistensi manusia dan
alam semesta. Semua yang material adalah hasil karya ide yang berada di
luar manusia. Segala fenomena alam maupun fenomena sosial adalah hasil rekayasa
ide obyektif tersebut. Hegel menyebut ide di luar
manusia itu sebagai “ide Absolut” yang tidak terbatas pada/oleh
ruang/tempat atau waktu. Jadi bersifat kekal permanen. Dalam kehidupan sehari-hari pemikiran Idealisme Obyektif mengambil bentuk penumpuan
segala sesuatu kepada apa yang disebut dengan tuhan, dewa, dan kekuatan-
kekuatan ghaib lainnya. Logika Mistik adalah salah satu bentuk filsafat
Idealisme Obyektif.
Idealisme
Subyektif yaitu idealisme yang memandang bahwa dunia
materi adalah sensasi-sensasi manusia, sedangkan
pikiran dan perasaan adalah satu-satunya zat (substansi) yang riil. Orang yang selalu menumpukan harapan-harapan kepada ide
manusia adalah contoh orang yang idealis subyektif.
Idealisme
Obyektif menyangkal adanya dunia materil yang obyektif dan mengakui dunia yang
riil hanya dalam sensasi manusia.
MATERIALISME
Filsafat
materialisme memandang bahwa materi lebih dahulu ada (primer) sedangkan ide
atau pikiran adalah sekunder. Dengan kata lain materialisme
mengakui bahwa materi menentukan ide, bukan
ide menentukan materi.
Contoh
: Karena meja atau kursi secara obyektif ada maka orang berpikir tentang meja
dan kursi. Bisakah seseorang memikirkan meja atau kursi sebelum benda yang
terbentuk meja dan kursi belum atau tidak ada.
Filsafat
Materialisme terbagi menjadi 4 (empat) :
a.
Materialisme Primitif
Faham materialisme yang berkembang pada zaman
Yunani Kuno kira-kira 600 tahun sebelum masehi. Secara ilmiah masih sederhana
tetapi merupakan cikal bakal dari paham materialisme. Materialisme
primitif inilah berperan dalam perkembangan paham Materialisme
selanjutnya.
b.
Materialisme Mekanik
Materialisme
mekanik memandang bahwa setiap gejala bagaikan
mesin segala macam gerak dipandang hanya sebagai gerak mekanik yaitu pergeseran
tempat dan perubahan jumlah saja tanpa perubahan secara kualitatif.
Seperti gerak pada putaran rantai sepeda.
c.
Materialisme Metafisik
Materialisme metafisik memandang bahwa :
gejala alam sebagai suatu yang kebetulan saja.
tidak ada saling hubungan
antara materi (materi terpisah- pisah).
Gejala
alam adalah diam, tidak bergerak, berhenti, statis, mati dan
tidak berubah-ubah.
Proses perkembangan
materi sebagai proses sederhana, tidak ada perubahan kuantitatif ke
perubahan kualitatif.
d.
Materialisme Dialektika (Dialectica Materialism--DIAMAT)
Matrialisme
Dialektika adalah materialisme yang memandang segala sesuatu selalu berkembang
sesuai dengan hukum-hukum dialektika. Hukum Dialektika: Hukum tentang saling hubungan dan
perkembangan gejala-gejala yang berlaku secara obyektif di dalam dunia semesta.
POKOK-POKOK PANDANGAN MATERIALISME DIALEKTIKA |
A. DUNIA ADALAH MATERIL
Segala macam gejala yang ada di dunia mempunyai
satu dasar yaitu materi. Dunia semesta ini pada dasarnya adalah materil dan dunia materil adalah satu-satunya dunia yang nyata (riil)
DEFINISI MATERI
Secara filsafat
Segala sesuatu yang ada di luar dan tidak tergantung
pada kesadaran manusia; Tidak dicipta dan dikendalikan oleh sesuatu ide apapun
dan dapat menimbulkan sensasi serta melahirkan refleksi di dalam fikiran
manusia.
Secara ilmu alam
(fisika)
Fisika
hanya memandang materi yang ada di alam
ini dari struktur (susunan) dan
organisasinya. Misalnya: Kapur terdiri dari unsur kimia zat perekat, zat
pewarna dan kalsium. Masing-masing unsur kimia mempunyai komposisi zat perekat
14 %, pewarna 6% dan kalsium 80%. Pengertian materi secara fisika hanya sebatas
hal-hal tersebut.
Pengertian materi secara filsafat berdasarkan saling hubungan
antara keadaan dengan fikiran, antara obyek dengan subyek.
Sedangkan pengertian materi
secara fisika berdasarkan tingkat perkembangan pengetahuan manusia terhadap alam. Kembali kita bicara
tentang kapur tulis tadi. Ilmu Pengetahuan manusia hingga saat masih belum
menemukan adanya zat atau unsur kimia baru dalam komposisi tertentu di dalam
susunan kapur tulis. Oleh karena itu, maka kapur tulis dalam Fisika disimpulkan
berdasarkan tingkat pengetahuan manusia itu tadi, kapur tulis yaitu terdiri
dari 14% zat perekat, 6% zat pewarna dan 80% kalsium.
Jadi
pengertian materi secara filsafat lebih luas
dan bersifat umum, tidak sebatas benda-benda atau proses alam saja, tetapi juga termasuk
fenomena-fenomena sosial. sedangkan pengertian materi secara fisika hanya sebatas tentang
benda-benda atau fenomena alam saja.
Pengertian
materi secara filsafat bersifat mutlak dan abadi
karena bagaimanapun majunya
pengetahuan manusia tidak akan mengubah kebenaran bahwa materi itu eksis
secara obyektif dan tidak tergantung pada kesadaran manusia, sedangkan
pengertian materi secara fisika bersifat relatif
dan sementara karena bergantung pada
perkembangan pengetahuan manusia.
DEFINISI IDE
Materialisme
berpendapat bahwa ide (pikiran) lahir dan ditentukan oleh materi, keberadaan
ide adalah sekunder.
Dua hal tentang
ide :
Ide
dilahirkan semacam materi tertentu yang
akrab disebut otak atau organisme sistem saraf yang telah mencapai tingkat perkembangan yang paling tinggi, karena tanpa otak maka tidak
akan ada ide atau fikiran.
Otak
atau sistem urat saraf adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam
materil.
Ide adalah pencerminan (refleksi/manifestasi) dari kenyataan
obyektif. Ide adalah dunia materil yang dicerminkan otak manusia dan diterjemahkan dalam bentuk-bentuk pikiran.
Pencerminan hanya bisa terjadi dengan adanya kontak langsung
antara kesadaran manusia dengan luar (materil) dengan adanya praktek sosial
manusia. Oleh karena itu ide
juga merupakan proses perkembangan praktek sosial manusia.
PERAN DAN AKTIF IDE
Walaupun Materialisme Dialektika berpendirian
bahwa materi adalah primer dan ide
adalah sekunder namun tidak mengabaikan peranan aktiif ide terhadap
(perkembangan) materi dalam
arti :
Ide
adalah pencerminan diri kenyataan obyektif. Pencerminan disini bukanlah pencerminan yang
sederhana dan langsung tetapi merupakan pencerminan yang aktif melalui
pemikiran yang rumit (canggih) sehingga dapat mencerminkan kenyataan obyektif
apa adanya secara keseluruhan. Karena adanya peranan aktif ide, maka manusia
dapat mengembangkan cara atau alat (perkakas) untuk memperbesar kemampuan dalam
mengenal atau mencerminkan maupun mengubah keadaan.
Dalam
mengenal dan mengubah keadaan materil manusia melakukannya dengan sadar untuk memenuhi
kebutuhan praktek sosialnya. Ide revolusioner inilah yang mencermminkan
hukum-hukum perkembangan kenyataan obyektif, memainkan peranan pendorong
perkembangan keadaan.
Jadi,
ide tergantung pada materi. Ide bisa menjangkau ke depan melampaui materi
tetapi tidak bisa telepas dari materi. Materi
menentukan ide, tetapi ide mempengaruhi perkembangan materi.
Disinilah letak peranan aktif ide dalam praktek.
Praktek
adalah aktifitas manusia mengenal dan mengubah keadaan materi. Praktek
mempunyai kedudukan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan
manusia. Dengan praktek manusia melahirkan ilmu pengetahuan, menguji dan
mengembangkannya. Perkembangan dan kemajuan teori ditentukan oleh sejauh mana
kemajuan praktek.
Disinilah letak dialektika antara teori dan praktek.
B. DUNIA MATERIL ADALAH SATU KESATUAN ORGANIK
Terdapat
saling hubungan secara organik, saling bergantungan, saling mempengaruhi,
saling menentukan satu sama lain pada dunia materil.
Contoh: Siapa yang berani mengatakan
bahwa tidak ada hubungan antara tumbangnya Soeharto dengan naiknya harga-harga
barang atau dengan semaraknya gerakan mahasiswa di berbagai kota? Krisis ekonomi global yang juga melanda
Indonesia ditandai dengan melonjaknya harga sembako telah mendorong mahasiswa
untuk turun ke jalan-jalan untuk memprotes penguasa yang korup dan nepotis.
Bukankah bertambah parahnya ekonomi Indonesia disebabkan karena tidak beresnya
sistem politik yang dilanggengkan Soeharto. Oleh karena itu, Soeharto harus
digulingkan lebih dulu dan sistem politik harus dibenahi. Dengan harapan bahwa
kalau sistem politik sudah benar maka tidak ada lagi kesempatan bagi penguasa
untuk melakukan korupsi yang menyengsarakan rakyat.
Saling hubungan
gejala-gejala adalah obyektif
Saling hubungan gejala-gejala adalah suatu hukum
yang obyektif berlaku di dunia semesta ini. Saling hubungan bukan merupkan
terkaan atau buatan manusia. Saling
hubungan memang ada secara obyektif. Oleh karena itu saling hubungan
gejala-gejala bukan perwujudan dari ide-ide atau pikiran manusia dan
sebagainya. Saling hubungan gejala-gejala tidak tergantung pada kesadaran
manusia.
Segala sesuatu
ditentukan oleh keadaan, tempat dan waktu
Dengan
mengakui bahwa saling hubungan gejala-gejala sebagai sebuah kenyataan obyektif
maka kita juga harus mengakui bahwa segala sesuatu gejala juga tergantung pada
keadaan, tempat dan waktu.
Contoh:
Kita tidak akan melakukan
gerakan politik klandestin/ bawah tanah sebelum Soeharto rontok jika kondisi
Indonesia saat itu sudah demokratis. Karena kondisi Indonesia pada era Soeharto
represif maka kita bergerak dengan strategi illegal.
Contoh
lain: Tidak mungkin di negara barat kita mamaksakan agar hukum/adat timur
dipakai disana sementara orang barat masih cinta dan mempertahankan adat
tersebut.
C. DUNIA MATERIL SENANTIASA BERGERAK DAN BERKEMBANG
Dunia materil senantiasa bergerak dan berkebang
sesuai keadaan, tempat dan waktu.
Gerak
materi adalah gerak sendiri
Karena
gerak adalah bentuk keberadaan yang tidak bisa dilepaskan dari materi maka
dapat dikatakan bahwa materi mempunyai gerak sendiri sebab esensi materi adalah
gerak (intern materi) yang paling
menentukan, sedangkan gerak ekstern hanya mempengaruhi saja.
Contoh:
Dalam suhu 50 derajat Celcius selama 21 hari maka telur akan menetaskan anak
ayam, sedangkan dalam suhu dan waktu yang sama, batu tidak mungkin akan
menetaskan anak ayam.
Ini
artinya bahwa setiap materi mempunyai sifat gerak sendiri-sendiri yang tidak
bisa disamakan dengan materi yang lain. Jadi, gerak dalam (faktor intern) yang
paling menentukan, sedangkan gerak luar (faktor ekstern) hanya syarat saja.
Diam adalah salah
satu bentuk gerak
Kita
yakin bahwa materi senantiasa bergerak dan berkembang, namun tidak menutup kemungkinan adanya keadaan materi yang
'diam'. Diamnya materi bukan berarti materi itu berhenti bergerak atau
materi itu telah hilang sifatnya yang esensial. Tapi 'diam'nya materi
disebabkan terjadinya keseimbangan antara gerak dalam materi (faktor intern) dengan gerak luar
(faktor ekstern). Artinya, ada kesamaan kualitas antara gerak dalam dengan
gerak luar.
Contoh:
Seandainya aku mendorongkan kepalaku ke tembok dengan kekuatan 2
tenaga kuda sedangkan tembok tidak juga jebol, maka kita dapat menyimpulkan
bahwa kemungkinan tembok mempunyai kekuatan lebih atau sama dengan 2 tenaga
kuda. Sehingga akibatnya tembok tidak jebol. Coba kalau kekuatan tembok di
bawah 2 tenaga kuda. Bisa dipastikan temboknya jebol.
Contoh
lain: Bisakan kita bayangkan Paket 5 UU Politik dan Dwifungsi ABRI dicabut
sementara kekuatan revolusioner yang menuntut hal itu masih lemah? Atau kalah
dengan kekuatan kaum Reaksioner Habibie-Wiranto yang pro satus quo. Mengapa
Paket 5 UU Politik tidak dicabut? Tentu jawabnya adalah karena kekuatan
revolusioner masih lemah, kecil atau mungkin karena kekuatan revolusioner masih
seimbang dengan kekuatan reaksioner pro kekuasaan. Lemahnya kekuatan
revolusioner ini karena tidak adanya tuntutan yang sama dalam gerakan
revolusioner itu sendiri. Ada yang menghendaki Dwifungsi ABRI dicabut sekarang
juga (PRD, Forkot, Fampred, Komrad, dll) sementara ada yang menghendaki
Pencabutan Dwifungsi ABRI dilakukan bertahap selama 6 tahun (Kelompok
Ciganjur--Megawati, Amien Rais, Gus Dur dan Sri Sultan HB X). Dan
lain-lain.
D. HUKUM DIALEKTIKA MATERIL
Berangkat
dari pengertian bahwa HUKUM DIALEKTIKA adalah hukum tentang saling
hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku secara obyektif dalam
dunia semesta. Maka dapat ditarik benang merah bahwa saling hubungan dan
perkembangan materi /gejala-gejala merupakan dua segi dialektika yang tidak
bisa dipisah-pisahkan satu sama lainnya.
Ada
3 pokok hukum dialektika materil
1. Tentang
Kontradikasi
Hukum
tentang kontradiksi merupakan esensi dari hukum dialektika karena
kontradiksi (pertentangan) mengungkapkan sumber atau asal-usul dan hakekat
perkembangan. Hukum kontradiksi mengajarkan bahwa segala sesuatu terdiri dari
bagian-bagian atau segi-segi yang berbeda atau kontradiksi dan gerak atau
perkembangan sesuatu itu terutama
disebabkan adanya saling hubungan yang
berupa persatuan dan perjuangan antara segi-segi yang berkontradiksi yang ada di dalamnya.
1.a. Keumuman
Kontradiksi
Hukum kontradiksi adalah umum
dan universal. Bahwa dalam fenomena material terdapat kontradiksi-kontradiksi
yang terjadi secara umum dalam seluruh proses gerak materi. Setiap hal tidak
dibatasi oleh ruang dan waktu.
Contoh: Dalam sejarah perkembangan masyarakat kita bisa melihat
silih bergantinya kontradiksi yang terjadi. Pada tahap masyarakat PERBUDAKAN terjadi
kontradiksi kelas antara Tuan Budak dengan Budak; kemudian pada tahap
masyarakat Feodal terjadi kontradiksi antara kelas Tuan Tanah dengan Petani (Buruh-Tani)
dan kontradiksi antara kelas Bangsawan Feodal dengan kelas Borjuis yang
koeksistensi dengan kelas Proletar. Ketika tahap masyarakat Feodal tumbang dan
diganti oleh tahap masyarakat baru yaitu masyarakat Kapitalisme, terjadi
pertentangan klas (kontradiksi) antara klas Borjuis (kapita lis) dengan klas Proletar
(buruh).
Dari contoh di atas kita dapat melihat dan sekaligus menyimpulkan
bahwa dalam satu keseluruhan proses perkembangan materi senantiasa terjadi
kontradiksi atau secara umum bisa dikatakan berlakunya hukum dialektika.
1.b. Kekhususan
Kontradiksi
Kontradiksi mempunyai kekhasan yang membedakan hal satu dengan
lainnya pada tingkat yang berbeda dari proses perkembangan. Juga mempunyai
kekhususan dalam kontradiksi yang membedakan tingkat perkembangan yang satu
dari lainnya.
Contohnya: Masih dengan contoh sejarah perkembangan masyarakat.
Pada tahap masyarakat Perbudakan terjadi kontradiksi antara budak dengan Tuan
Budak, sementara pada tahap masyarakat Feodal terjadi kontradiksi klas tani
dengan klas tuan tanah; dan pada tahap masyarakat Kapitalisme, kontradiksi
terjadi antara klas Borjuis dengan klas proletar.
Kekhasan / kekhususan kontradiksi dalam contoh di atas adalah ciri
khas masyarakat. Perbudakan adalah kontradiksi antara budak dengan Tuan Budak.
Tidak bisa disamakan dengan kekhasan masyarakat. Feodal yang bercirikan
kontradiksi antara tani dengan Tuan Tanah.
Kalau dalam masyarakat Feodal yang dipertentangkan adalah perihal
kepemilikan tanah, maka dalam masyarakat Kapitalis yang dipertentangkan adalah
kepemilikan modal dan alat-alat produksi. Dengan kata lain: Khasnya masyarakat
Feodal adalah tanah sebagai yang dipertentangkan, sedangkan khasnya masyarakat
Kapitalis adalah modal yang dipertentangkan. Dan lain-lain.
1.c. Kontradiksi
pokok dan bukan pokok
Kontradiksi pokok adalah kontradiksi yang menjadi poros dan memimpin
semua kontradiksi bukan pokok. Dalam penyelesaian kontradiksi, maka kontradiksi
pokok diutamakan.
Dalam setiap perkembangan hanya ada satu kontradiksi pokok yang
memegang peranan memimpin dan menentukan. Kontradiksi pokok memainkan peranan
yang memimpin kontradiksi-kontradiksi lainnya pada satu tingkatan perkembangan
tertentu maka ia merupakan dasar persoalan yang harus dipecahkan lebih dulu dan
hanya dengan demikian
kontradiksi-kontradiksi lainnya baru
bisa dan lebih muda diselesaikan.
Walaupun demikian bukan berarti kontradiksi-kontradiksi yang bukan
pokok tidak ada peranannya atau pengaruhnya sama sekali terhadap penyelesainnya
kontradiksi pokok. Sebaliknya perkembangan kontradiksi-kontradiksi itu
mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap penyelesaiannya kontradiksi pokok.
Contoh: Era pasca Soeharto tumbang terjadi pertentangan antara
Kaum revolusioner/reformis dengan kaum reaksioner--pro satus quo
(Habibie-Wiranto). Sementara di dalam tubuh kaum revolusioner/reformis sendiri
juga terjadi kontradiksi pendapat--sikap terhadap sistem/penguasa
Habibie-Wiranto. Misalnya kontradiksi antara PRD dengan kelompok moderat.
Manakah kontradiksi pokok dan bukan pokoknya?
Kontradiksi pokoknya adalah kontradiksi antara Kaum Revolusioner /
reformis dengan kaum Reaksioner-pro status quo. Ini kontradiksi yang harus
didahulukan penyelesaiannya. Sedangkan kontradiksi antara kelompok
revolusioner/reformis sendiri adalah kontradiksi bukan pokok. Kontradiksi bukan
pokok (antara pro-demokrasi) ini harus ditunda dulu. INGAT, bukan diabaikan !.
Ketika kontradiksi pokok terselesaikan maka secara otomatis kontradiksi bukan
pokok turut terselesaikan.
1. d. Segi-segi yang
kontradiksi
Setiap kontradiksi terdiri dari 2 segi yang mmempunyi arti peranan
dan kedudukan yang berbeda, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai, ada yang
memimpin dan yang dipimmpin. Dalam keadaan tertentu dua segi itu berada dalam
kedudukan yang seimbang tetapi bersifat relatif dan sementara.
Segi yang berperanan menguasai atau mendominasi dalam seluruh proses
perkembangan mempunyai arti yang
menentukan kualitas kontradiksi. Segi yang berperanan memimpin pada
tingkat-tingkat perkembangan mempunyai arti yang menentukan terhadap arah yang
dituju oleh perkembangan kontradiksi itu pada tingkatan tertentu.
Segi yang baru pada awal proses perkembangan kontradiksi masih mudah
dan merupkan segi yang dipimpin dan dikuasai. Dalam proses selanjutnya ia akan
tumbuh menjadi besar dan kuat sehingga memimpin dan mendominasi. Bila hal ini
terjadi berarti kualitas kontradiksi itu telah mengalami peruubahan.
Contoh: Pada Era Soeharto terjadi kontradiksi antara Rezim
Soeharto dengan PDI Perjuangan.Ketika Soeharto berkuasa, Soeharto lah yang
memimpin, menentukan dan dominan. Tapi ketika Soeharto ambruk, PDI Perjuangan
ganti memimpin, mendominasi, menentukan, mengarahkan dan menguasai. Segi
yang berkontradiksi dalam contoh tersebut adalah segi Rezim dan satu segi lagi
yaitu segi PDI Perjuangan.
2. Tentang Perubahan
Kuantitatif ke Perubahan Kualitatif
Hukum
perubahan kuntitatif keperubahan kualitatif menerangkan jalannya proses
perkembangan segala sesuatu.
Perubahan
kuantitatif adalah perubahan jumlah (bertambah/berkurang)
susunan, hubungan dan komposisi materi yang berlangsung secara evolusioner
sampai pada batas waktu tertentu. Perubahan kuantitatif merupakan syarat untuk
menuju keperubahan kuantitatif.
Perubahan
kuantitatif menyiapkan perubahan kualitatif dan perubahan
kualitatif menyelesaikan perubahan kuantitatif yang lama dan melahirkan serta
mengembangkan perubahan kuantitatif yang baru. keduanya berlangsung terus
menerus secara bergiliran.
3. Hukum tentang
negasi dari negasi
Hukum negasi dari negasi menunjukan orientasi
gerak dan perkembangan segala sesuatu. Hukum ini menggungkapkan pergantian
kualitas lama dengan dengan kualitas baru dalaam proses perkembangan dan
peningkatan dari bentuk-bentuk yang rendah dan sederhana kebentuk yang lebih
tinggih dan kompleks.
Perkembangan
materi mengulangi tingkat-tingkat yang pernah terlampui tetapi mengulanginya
secara lain di atas yang lebih tinggi. Contoh: Dalam sejarah masyarakat bisa
kita lihat bagaiamana masyarakat komunis akan menjadi tahap masyarakat yang
final setelah terjadi perubahan dari tipe masyarakat sebelumnya, yaitu: Komunal
Primitif--Perbudakan--Feodal--Kapitalisme--Sosialisme. Setelah masyarakat
sosialis maka lahirlah masyarakat komunis baru yang lebih maju dari tipe
masyarakat Komunal Primitif, dan Lain-lain.
E.
PENUTUP
Demikianlah Hukum Dialektika Materialis yang
mengajarkan pada kaum pergerakan bagaimana menyelesaikan atau mengakhiri suatu
konntradiksi yang terjadi dalam masyarakat. Kontradiksi antara rakyat yang
tertindas dengan kaum militeris kapitalis yang menindas hanya bisa diselesaikan
dengan perubahan kuantitatif dalam hal ini metode perjuangan,teori perjuangan
daan strategi taktik perjuangan Kemudian pasti akan disusul dengan Perubahan
Kualitatif berupa runtuh atau tumbangnya Masyarakat Militeris-Kapitalis yaitu
masyarakat damai, masyarakat yang
============================================================
Filsafat : Landasan bagi Pergerakan
Studi kita tentang
teori Marxis akan dimulai dengan pengamatan terhadap filsafat Marxisme, yaitu
materialisme dialektis. Kita harus mulai dari filsafat karena filsafat
memberikan landasan bagi pemahaman kita tentang ekonomi politik, strategi
politik dan masalah teoretis lain yang kita hadapi dalam pergerakan. Filsafat
memberikan cara pandang dan metode untuk menelaah semua persoalan yang dihadapi
oleh pergerakan. Materialisme dialektis juga memberikan jangkar ilmiah yang
kokoh tempat berpijaknya aktivitas kita dalam pergerakan.
Untuk
memulai pembahasan ini kita harus menjawab pertanyaan:
Apa
itu filsafat? Secara singkat filsafat dapat dikatakan sebagai teori umum
tentang kenyataan. FIlsafat meliputi penelahaan terhadap berbagai hal mendasar
seperti hubungan antara berpikir dan keadaan (thinking and being); bagaimana
segala sesuatu berubah dan berkembang; apakah ada kehidupan lain setelah tubuh mati
atau tidak; dan sebagainya. Singkatnya, filsafat mengamati semua masalah
yang berurusan dengan alam, masyarakat dan pikiran.
Karena
itulah filsafat menjadi titik tolak yang sangat baik untuk studi kita.
Pengetahuan kita tentang ekonomi politik yang sudah dimiliki kini bisa
diperiksa kembali landasan filsafatnya, apakah sudah berpijak pada cara pikir
yang konsisten dan tepat atau belum.
Selama
perjalanan sejarah manusia, sudah tak terhitung jumlah filsuf di dunia. Mulai
dari pemikir-pemikir dalam masyarakat Yunani seperti Aristoteles, Plato,
Socrates dan seterusnya sampai pada pemikir-pemikir modern seperti John Stewart
Mill dan Bertrand Russell. Dalam studi ini, kita tidak akan mengulas semua
pikiran yang pernah dijabarkan manusia selama hidupnya, juga tidak sebagian
dari mereka seperti yang lazimnya dilakukan oleh studi-studi filsafat. Titik
berangkat kita adalah filsafat Marxis yang merupakan ungkapan filsafat yang
paling maju dalam sejarah manusia.
Atas
dasar apa kita bisa mengatakan bahwa Marxisme adalah ungkapan filsafat
tertinggi yang pernah dibuat manusia ?
Pertama,
karena akar dari materialisme dialektis ada pada proletariat dan dengan
karena itu, filsafat tsb juga menjadi cara pandang dunianya. Proletariat tidak
berkepentingan untuk memisahkan masyarakat dalam kelas-kelas atau
mempertahankan pemisahan yang sudah ada.
Proletariat
senantiasa berusaha memahami dunia dari sudut yang obyektif dan ilmiah. Semua
aliran filsafat terdahulu terikat pada pandangan subyektif yang berusaha
mempertahankan struktur kelas yang eksploitatif, tentunya demi keuntungan kelas
penguasa.
Filsafat
Marxis-Leninis adalah filsafat pertama yang secara utuh dan lengkap bersandar
pada kelas yang tidak punya kepentingan menindas dan dengan begitu mewakili
cara pandang obyektif dan revolusioner di dunia. Kenyataan bahwa
Marxisme-Leninisme terang-terangan merupakan pandangan yang membela tujuan dari
kelas buruh sama sekali tidak bertentangan dengan asasnya yang obyektif dan
ilmiah. Justru karena filsafat ini bersandar pada kelas buruh, maka ia dapat
memberikan pandangan ilmiah terhadap kenyataan. Marx dan Engels suatu saat
mencatat: "Sama halnya seperti filsafat menemukan senjata materialnya di
dalam proletariat, maka proletariat menemukan senjata spiritual mereka dalam
filsafat. (Marx dan Engels, dikutip dalam Handbook of Philosophy, disunting
oleh Howard Selsam, Proletarian Publisher, 1949.)
Namun,
"senjata spiritual" yang disebut Marx di sini sama sekali bukan
berarti "kepercayaan" atau optimisme berlebihan. Filsafat di sini
justru berfungsi sebagai alat intelektual khususnya cara pandang yang
revolusioner dan ilmiah yang sangat penting untuk menjalankan tugas dan
strategi di dalam pergerakan.
Tentu
saja, kebutuhan untuk memahami filsafat Marxis semakin terasa saat ini jika dibandingkan
sekitar seratus tahun lalu. Rumitnya perkembangan internasional dengan situasi
pertentangan kelasnya, dan juga perbedaan-perbedaan di kalangan revolusioner
sendiri, makin mendesakkan kebutuhan akan adanya pemahaman yang seragam
terhadap filsafat Marxis. Sayangnya, banyak orang yang menamakan dirinya
revolusioner meniadakan kebutuhan ini, filsafat sering diabaikan dan diremehkan
dalam gerakan revolusioner yang luas. Kebanyakan orang menyingkirkan persoalan
filsafat ini karena dianggap kebutuhan akan jawaban-jawaban terhadap persoalan
langsung dan kongkret itu jauh lebih penting. Pendekatan pragmatis seperti ini
telah meniadakan atau mengecilkan arti dari filsafat Marxis sebagai alat yang
sangat penting bagi kelas proletariat. Sebaliknya, banyak orang lain yang
terlalu terpaku secara dogmatik terhadap filsafat ini, dan mengabaikan bahwa
yang terpenting bagaimanapun adalah kemampuan menelaah dan menyelesaikan
persoalan. Hal seperti ini memerlukan studi teori dan juga belajar terus
menerus dari praktek politik sehari-hari, secara bersamaan, tanpa mengunggulkan
yang satu di atas yang lain. Seperti dikatakan Lenin: "Tidak akan ada
revolusi tanpa teori revolusioner." Dalam kesempatan lain dikatakannya
bahwa teori revolusioner juga hanya mungkin muncul dari gerakan revolusioner
itu sendiri.
I. Filsafat dan Kelas
Untuk mempelajari filsafat Marxis, penting bagi
kita untuk memblejeti beberapa kesalahpahaman terhadap filsafat yang amat
sering terjadi. Kiranya kesalahpahaman yang paling sering terjadi dalam
masyarakat adalah bahwa filsafat hanya ada di benak para pemikir besar, dan
tidak ada hubungannya dengan kenyataan sehari-hari. Dalam kenyataannya,
filsafat sama sekali bukan milik segelintir pemikir besar, tapi cerminan
dari organisasi sosial masyarakat dan watak dari produksi sosial tertentu.
Walaupun filsafat diungkapkan oleh individu tertentu, isinya jelas dipengaruhi
oleh cara pandang dan kepentingan kelas dari individu tersebut. Dengan kata
lain, dalam memberikan gambaran tentang kenyataan, filsafat sudah mengambil
posisi sosial tertentu terlebih dulu. Mungkin saja benar bahwa kebanyakan
filsafat ada di luar jangkauan masyarakat luas (sering dibilang bahwa filsafat
itu mengawang-awang, tidak menyentuh kenyataan dan seterusnya), tapi yang
jelas bahwa filsafat itu berakar pada kondisi sosial tertentu. Ini hal yang
tidak mungkin dibantah.
Filsafat
telah hadir di dunia begitu manusia punya waktu untuk melihat kembali apa yang
terjadi di dunia. Pengembangan kemampuan pikiran manusia –seperti filsafat,
politik, kebudayaan-- hanya mungkin ada kalau tidak semua orang secara utuh
terikat pada kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam masyarakat primitif,
hanya ada sedikit waktu untuk berfilsafat, karena kebutuhan ekonomi cenderung
menyerap seluruh kerja dan energi manusia. Dalam usaha menjelaskan teka-teki
kehidupan --kenapa hujan jatuh dari langit, apa yang membuat matahari
bersinar-- manusia hanya dapat memberi penjelasan yang mitos sifatnya. Mereka
sama sekali tidak punya pemahaman ilmiah terhadap hal-hal ini dan karenanya
mereka cenderung memberikan penjelasan spiritual terhadap hal-hal yang
sesungguhnya material (misalnya, dewa matahari, dewa hujan, dan sebagainya).
Dengan begitu, masyarakat didominasi atau dikuasai mitologi --yang pada
dasarnya adalah penggantian kenyataan dengan fantasi-- ketimbang filsafat.
Dalam
perjalanannya, manusia berhasil membuat terobosan-terobosan ilmiah dan dapat
menggunakan sejumlah pengetahuannya untuk melengkapi caranya memandang dunia.
Tidak ada gunanya lagi memberikan penjelasan spiritual terhadap segala sesuatu,
karena penjelasan ilmiah sudah dikembangkan untuk gejala-gejala tertentu
(misalnya, sebab adanya api, apa yang membuat tumbuhan berkembang). Hasilnya,
masyarakat mulai berpaling dari mitologi kepada filsafat. Namun, karena
keterbatasan pengetahuan, manusia belum sepenuhnya dapat meninggalkan
penjelasan spiritual. Mistisisme tetap menjadi kekuatan berpengaruh dalam
filsafat, dan akhirnya berkembang menjadi agama-agama yang lebih kompleks
sifatnya dalam masyarakat modern (Yudaisme, Katolisisme, dan lainnya).
Ketika
kemanusiaan itu berkembang, demikian pula masyarakat kelas dan penindasan
kelas. Akhir dari masyarakat primitif menandai awal dari zaman baru di mana
manusia dibagi-bagi menjadi penguasa dan yang dikuasai. Ketika hal ini
muncul,filsafat mulai mencerminkan posisi kelas dan orientasi kelas. Dapat
dimengerti bahwa filsuf kerajaan mencerminkan kepentingan kelas penguasa.
Seperti dikatakan Marx dan Engels, "Ide kelas penguasa dalam zaman apapun
adalah ide yang berkuasa; yaitu, kelas yang merupakan penguasa kekuatan
material dalam masyarakat, pada saat yang sama adalah kekuatan intelektual yang
berkuasa. (Marx & Engels,The German Ideology, dalam Selsam &
Martel,Reader in Marxist Philosophy,_International Publisher,h.189.)
Filsafat
dari semua masyarakat --sampai sekarang ini-- adalah refleksi intelektual
terhadap kerangka kelas tertentu dan kondisi sosial. Misalnya, dalam masyarakat
perbudakan pandangan sosial yang dominan adalah "warga" (citizen).
Pandangan ini mengandung aspirasi dari kelas tertentu, yaitu kelas pemilik
budak. Pandangan ini mengunggulkan individu untuk memiliki sesuatu --tanah dan
juga manusia-- dan untuk terlibat dalam kegiatan politik dan intelektual
masyarakatnya. Karena itulah masyarakat perbudakan mengembangkan demokrasi
hanya untuk para pemilik budak. Filsafat mereka menjadi kode etik bagi kelas
pemilik budak. Sama halnya, filsafat yang dominan dalam zaman feodal dapat
diartikan sebagai pembenaran terhadap hirarki feodal yang ketat. Terutama
dikembangkan oleh gereja Katolik, cara pandang ini mengembangkan cara pandangan
statis tentang tata susun masyarakat. Tidak heran bahwa dalam cara pandang ini
petani penggarap menempati urutan paling bawah sementara raja dan bangsawan
lainnya ada di tingkat paling atas.
Ini
bukan untuk mengatakan bahwa filsafat itu hanyalah akal-akalan penguasa untuk
mengelabui mereka yang tertindas. Filsafat berakar dalam kondisi sosial yang
nyata di setiap zaman dan karena itu selalu terbatas pada tingkat pengetahuan
manusia.
Dalam
periode sejarah manapun tidak akan mungkin dibuat analisis obyektif terhadap
semua gejala alam dan gejala sosial, karena manusia tidak cukup pengetahuannya
untuk memahami semua hal. Pada batas-batas kemampuan mereka menganalisis dunia,
maka analisis ini diwarnai oleh kondisi kelas dan oleh cara berfungsinya masyarakat
selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Singkatnya, tiada pikiran di dunia ini
yang terlepas dari kondisi sosial. Semua pikiran,dengan cara berbeda-beda jelas
dipengaruhi kondisi sosial. Lebih lanjut, seluruh masyarakat tak pernah secara
utuh dan lengkap disatukan di bawah satu filsafat tertentu. Sering terjadi
perdebatan filsafat di kalangan kelas penguasa sendiri, dan juga di antara
kelas-kelas. Dalam masyarakat perbudakan, misalnya, debat filsafat muncul
antara sayap progresif dan reaksioner dari kelas penguasa. Plato mengungkapkan
kepentingan dari aristokrat pemilik budak yang reaksioner menentang pandangan
dialektis, yang materialis tapi primitif dari Demokritus dan Heraklitus. Di
pihak lain, Aristotle berulangkali mengkritik teori-teori idealis dari Plato
dan menjunjung pendekatan yang lebih materialis untuk memahami dunia. Jadi,
sekalipun kedua alur pikiran ini berakar pada kelas pemilik budak, keduanya
tidak mengembangkan cara pandang filsafat yang sama.
Ketika
kaum borjuis muncul menentang kekuasaan feodal, mereka dipersenjatai dengan
filsafat baru. Cara pandang borjuis mengutamakan kebebasan individu,
dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang sudah terikat pada nasib, tapi
sebaliknya setiap orang dapat bekerja sesuai keinginannya untuk maju.
Perkembangan ini tercermin secara religius dalam debat antara Katolisisme dan
Protestanisme. Sebenarnya, cara pandang Protestan adalah kebutuhan kaum
borjuasi untuk mematahkan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh feodalisme,
agar bebas membuat barang, agar bebas memasuki pasar dan mengambil keuntungan.
Para
pemikir abad Pencerahan (Eropa abad 18) adalah filsuf-filsuf borjuis. Mereka
menulis tentang pentingnya "kebebasan" dan "kemerdekaan"
dari sudut pandang ekonomi, politik dan intelektual. Para pemikir ini juga
menjunjung tinggi kekuatan akal yang begitu besar dari manusia. Mereka
memandang pikiran manusia sebagai kekuatan besar, yang sanggup membawa
perubahan di dunia. Tetapi, walaupun pemikir Abad Pencerahan ini, seperti
Voltaire, Diderot dan Hegel mengembangkan pengertian tentang pentingnya
"kebebasan", "kemerdekaan", dan
"akal", filsafat mereka juga harus dilihat dalam konteks aspirasi
borjuis. Seruan akan kebebasan diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dari
kelas feodal yang membuat sebagian besar penduduk --dan khususnya kaum borjuis
sendiri-- terikat secara ekonomi dan politik. Mereka memajukan akal sebagai
bagian dari proses mengkritik dan menggerogoti batasan-batasan ekonomi, politik
dan intelektual yang dihasilkan keterbelakangan feodalisme.
Jelas
bahwa filsafat senantiasa harus ditempatkan dalam konteks sosial dan kondisi
kelas. Walaupun bayangan kita tentang filsafat itu sebagai sesuatu yang seakan
lepas dari kenyataan, kita harus tahu bahwa filsafat hanya dapat dimengerti
sebagai sesuatu yang sangat erat ikatannya dengan kondisi kongkret. Lebih
lanjut, sejarah pertentangan filsafat bukan hanya debat antara gagasan-gagasan
yang mengasyikkan, tapi cerminan dari pertentangan kelas dan kondisi
kelas. Seperti kita lihat, kelas-kelas yang tertindas dalam masyarakat tertentu
sering mengembangkan cara pandang yang menentang filsafat penguasa
-- contohnya, pikiran kaum borjuis yang muncul menentang tata susun
feodal. Sama halnya, filsafat Marxisme-Leninisme adalah bagian dari
pertentangan kelas pada masa sekarang. Materialisme dialektis dirumuskan dalam
periode mana kontradiksi dan ketidakmampuan cara produksi kapitalis menjadi
jelas. Filsuf borjuis, dengan seruan mereka tentang "kebebasan" dan
"kemerdekaan" tak lagi memainkan peran revolusioner dan tak dapat
menjelaskan kegagalan dari cara produksi yang baru itu.Filsafat borjuis
mengunggulkan kebebasan individu untuk terlibat dalam produksi, pertukaran dan
penghisapan hasil kerja orang lain; dan dengan begitu memberikan alasan dasar
bagi kapitalisme. Titik berangkat dari filsafat Marxis adalah melihat kenyataan
real dan material sebagai hal utama dan memahami bahwa masyarakat manusia,
gagasan dan nilai berangkat dari kondisi material tsb. Dengan begini, filsafat
Marxis dapat membuka selubung yang menutupi realitas obyektif dari penindasan
dan penghisapan kapitalis. Tapi filsafat Marxis juga berbicara untuk kelas
tertentu --proletariat. Filsafat Marxis menyediakan alat untuk
mengenali proletariat sebagai obyek dari penindasan kapitalis, dan dengan
begitu mendukung perjuangan proletariat menentang penindasan. Lebih lanjut,
filsafat Marxis tidak memberikan pandangan yang statis tentang dunia, seperti
yang dilakukan oleh filsafat dari zaman feodal dan perbudakan. Salah satu unsur
kunci dari filsafat Marxis adalah mengenali perubahan dan pertentangan di
dunia, yaitu bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan bahwa kontradiksi
dapat dipecahkan sehingga manusia dapat bergerak ke tingkat yang lebih tinggi.
Dengan begitu, filsafat Marxis membantu mengenali proletariat bukan hanya
sebagai korban dari penindasan kapitalis, tapi juga sebagai agen perubahan.
Bersandar pada kenyataan bahwa proletariat sebagai kelas bertanggungjawab pada
keseluruhan produksi, filsafat Marxis melihat kelas ini sebagai kekuatan
yang dapat menghancurkan tata kapitalis dan menghadirkan cara produksi yang
baru (sosialisme) di dunia.
II.
Marxisme: Pembalikan Revolusioner dalam Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu.
Di atas kita telah mencatat arti penting dari
filsafat Marxis sebagai alat memahami kondisi obyektif yang eksploitatif dari
kapitalisme dan sebagai "senjata spiritual" bagi proletariat dalam
perjuangan mereka menentang kapitalisme dan demi sosialisme.
Kita
dapat memperdalam pengertian ini, pengertian tentang signifikansi revolusioner
dari filsafat Marxis dengan mengamati bagaimana filsafat ini, untuk pertama
kalinya dalam sejarah, menggabungkan filsafat dengan ilmu. Ilmu berbeda dari
filsafat karena ilmu hanya memberikan pengetahuan tentang wilayah khusus dari
alam atau masyarakat, sementara filsafat berusaha memberikan gambaran
menyeluruh dari hukum-hukum alam, masyarakat dan pikiran. Ilmu, yang
menggunakan metode investigasi yang empiris dan teoretis, mempelajari bidang
tertentu seperti biologi, fisika, sejarah dan antropologi. Ilmu mengambil
kesimpulan langsung dari penyelidikan terhadap alam dan masyarakat, dan menguji
kebenaran kesimpulan ini melalui praktek --dan bukan hanya "dalam pikiran".
Sumbangan yang beragam dari para ilmuwan dan filsuf terhadap pengetahuan
manusia dapat segera dilihat dengan membandingkan ilmuwan seperti Galileo,
Newton, Darwin dan Einstein dengan filsuf macam Plato, Thomas Aquinas dan
Hegel. Namun, terlepas dari pembedaan di antara kedua bidang ini, juga ada
hubungan yang sangat erat. Dalam hubungan ini filsafat melingkupi pengetahuan
tertentu yang diperoleh dari ilmu ke dalam pandangan dunia dan metodologi yang
lengkap, dan dengan begitu menyediakan kerangka teoretis yang umum demi
kemajuan ilmu. Jika hubungan ini dikacaukan pada salah satu sisi, maka
kesalahan fatal adalah akibatnya. Tidak ada orang yang memahami hubungan antara
ilmu dan filsafat lebih ketat daripada Marx, yang pada saat bersamaan adalah
seorang ilmuwan sosial yang cemerlang sekaligus filsuf revolusioner. Marx
sekaligus menghasilkan ilmu sejarah dan masyarakat serta filsafat yang
merangkum hukum-hukum paling umum dari ilmu ini.
Seperti
telah kita catat, cara pandang dari mayarakat primitif terutama berlandaskan
pada mitologi karena pengetahuan ilmiah tentang dunia pada saat itu masih
bersifat minim. Secara bertahap, saat pengetahuan ilmiah makin mendalam,
masyarakat mulai berpaling dari mitologi. Namun, mistisisme terus merupakan
kekuatan dominan dalam cara pandang masyarakat perbudakan dan feodal.
Dalam
mistisisme dunia dijelaskan sebagai hasil kerja kekuatan spiritual, seperti
dewa matahari, bulan, raja laut, dan seterusnya. Jadi, sebelum ilmu itu ada, yang ada itu
filsafat. Karena itulah, untuk jangka waktu yang lama filsafat dianggap
sebagai "ilmu dari semua ilmu", yang mencakup semua bidang
pengetahuan manusia dan bisa memberikan tuntunan dengan mengacu pada
"prinsip pertama". Ketika muncul kemajuan ilmu yang hasilnya
menentang filsafat yang ada, maka sering terjadi pertentangan tajam, misalnya
dalam kasus Galileo, yang kemajuan ilmiahnya dalam memahami bumi dan alam
semesta bertentangan dengan cara pandang Katolik.
Perkembangan
kapitalisme, bagaimanapun menjadi landasan bagi kemajuan-kemajuan yang dahsyat
dalam bidang ilmu. Pengembangan kekuatan produksi memungkinkan manusia mendapat
pengetahuan ilmiah yang lebih besar tentang alam dan kemanusiaan. Terlepas dari
semua kemajuan ilmu yang dicapai oleh kaum borjuis, filsafat borjuis secara
umum menghadirkan ilmu dan filsafat sebagai dua hal yang berdiri terpisah.
Misalnya, sekalipun para ilmuwan borjuis dituntut mencari fakta-fakta obyektif
dalam kerja ilmiah mereka untuk menghasilkan sesuatu, pandangan filsafat mereka
kadang sangat kentara masih diselubungi mistisisme (kepercayaan terhadap dukun,
kekuatan spiritual, dan sebagainya). Lebih lanjut, filsuf borjuis terus
menghasilkan karya-karya abstrak (tentang sejarah, politik, etika, logika
formal, dan seterusnya) yang gagal menjelaskan sesuatu atau juga
bertentangan dengan penemuan ilmu modern. Banyak kekeliruan mendasar yang
muncul karena adanya pemisahan antara filsafat dan ilmu oleh kaum borjuis.
Secara khusus, kita temukan dominasi pragmatisme yang menyatakan bahwa
filsafat yang menyeluruh itu tidak diperlukan dan bahwa pengetahuan manusia
hanya perlu dilandaskan pada akumulasi (pengumpulan) fakta-fakta ilmiah yang
makin banyak; kebutuhan akan tinjauan umum terhadap realitas sama sekali
diabaikan.
Di
pihak lain, kita menghadapi masalah dogmatisme yang melandaskan diri pada
"filsafat" tapi tidak didukung oleh pembuktian ilmiah. Kedua
kecenderungan ini senantiasa gagal menjelaskan realitas secara utuh --sebuah
proses yang memerlukan pemahaman tentang hubungan yang tepat, dan membuat
filsafat bergantung pada penyelidikan ilmiah serta menggunakan kerangka yang
disediakan filsafat untuk mengarahkan dan membimbing penyelidikan.
Inilah yang dicapai Marxisme dan menghasilkan
revolusi dalam filsafat dengan mengubah hubungannya terhadap ilmu. Ini adalah
revolusi yang sangat penting, yang digambarkan Engels sebagai "akhir dari
semua filsafat dalam pengertian yang diterima sampai sekarang ini." Marx
membuat filsafat bergantung pada ilmu, dengan begitu mematahkan praktek lama
dari semua filsuf spekulatif yang mencoba menempatkan filsafat mereka di atas
ilmu. Buktinya adalah ekonomi politik Marx, yaitu ilmu yang disusun dari
penyelidikan empiris dan teoretik tentang ekonomi kapitalis. Dari ilmu ini,
Marx menarik kesimpulan umum tentang masyarakat yang kemudian menghasilkan
rumusan tentang hukum-hukum gerak masyarakat manusia, atau juga dikenal dengan
nama materialisme historis. Pada saat bersamaan, materialisme historis
menerapkan prinsip-prinsip umum dari materialisme dialektis kepada masyarakat
manusia. Tapi titik berangkatnya tetap investigasi langsung terhadap kenyataan.
Materialisme
dialektis harus dipahami sebagai tinjauan umum terhadap hukum-hukum gerak yang
nyata di dunia. Jelas bahwa pemahaman terhadap hukum-hukum ini akan memudahkan
kemajuan kerja ilmiah, tapi hukum-hukum itu sendiri tidak dapat menciptakan
pengetahuan baru tanpa diterapkan dalam bidang ilmu tertentu.
Filsafat
Marxis dengan begitu bersandar pada ilmu, membuat kesimpulan dari ilmu dan
memasukkannya ke dalam cara pandang dunia dan metodologi yang konsisten.
Filsafat Marxis sudah meninggalkan filsafat dalam pengertian spekulatif. Tidak
ada lagi filsafat alam yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu
alam. Hukum-hukum paling umum dari ilmu alam diungkapkan dalam materialisme
dialektis. Tidak ada lagi filsafat sosial, yang berdiri di atas ilmu, tapi yang
ada adalah ilmu sosial (Marxisme-Leninisme). Hukum-hukum paling umum dari
ilmu sosial diungkapkan dalam materialisme historis.
III. Prinsip-prinsip Dasar dari Filsafat Marxis
Kita
sudah membahas arti penting revolusioner dari filsafat Marxis, dengan mengamati
isinya secara umum. Sekarang kita akan mengamati cara pandang ini lebih rinci,
dengan menelaah komponen utama dari materialisme dialektis.
Pertama-tama
filsafat Marxis mempertanyakan mana yang lebih utama: benda (matter) atau
ide? Singkatnya, aspek materialis dari materialisme dialektis menyatakan bahwa
benda lebih utama dari ide. Dunia dapat dipahami, tapi kehadirannya terpisah
dari kesadaran manusia. Artinya, walaupun dipikir atau tidak, kenyataan benda
itu tetap ada. Contohnya begini, sekalipun kita tidak memikirkan air yang
senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah, kenyataan itu tetap
berlangsung.Sekalipun kita tidak tahu bahwa matahari terbit di timur, kenyataan
itu tetap berlangsung. Sekalipun keterangan ini cukup jelas, masalah benda
versus ide ini tetap menjadi jantung pertentangan filsafat di masa lalu, dan
berlanjut terus sebagai fokus perdebatan filsafat. Idealisme, cara pandang yang
berlawanan, menyatakan bahwa hal yang ada di dunia itu semata benda dalam
pikiran, dan bukan benda material
Dalam
pandangan idealisme dunia hanya hadir dalam pikiran orang, atau dengan kata
lain bahwa dunia diciptakan oleh kekuatan spiritual tertentu. Engels
mengungkapkan perbedaan antara materialisme dan idealisme seperti ini:
"Masalah
besar yang paling mendasar dari semua filsafat, dan terutama filsafat
dewasa ini, berkisar pada hubungan antara berpikir dan ada. Para filsuf terbagi
dalam dua kubu menurut jawaban mereka terhadap persoalan tersebut. Mereka yang
mengunggulkan ide di atas alam, dan dengan begitu pada akhirnya berasumsi
tentang penciptaan dunia membentuk kubu idealisme. Yang lain, yang melihat alam
lebih utama, tergabung dalam beberapa aliran materialisme. Ini adalah
pengertian paling dasar dari kedua istilah itu, idealisme dan materialisme.
(Engels, Ludwig Feuerbach, International Publishers, 1978, hlm. 20-1.)
Walau
filsuf materialis sudah menulis sebelum mereka, Marx dan Engels lah yang
pertama membuat elaborasi materialisme dari segala segi, sambil membuat kritik
yang menyeluruh terhadap idealisme. Dalam pencarian mereka akan prinsip-prinsip
yang melandasi proses sosial dan alam, jelas bagi Marx dan Engels bahwa
idealisme hampir-hampir tidak menghadirkan pandangan ilmiah tentang dunia, dan
nyata bisa berkembang hanya karena ketidakpedulian manusia terhadap kekuatan
yang menghasilkan proses tertentu. Idealisme, sebagai cara pandang sosial,
bisa menuju fatalisme --idealisme sering mengatakan bahwa manusia tidak dapat
mengubah dunia di hadapan mahluk spiritual yang luar biasa kekuasaannya. Di
sisi lain idealisme dapat menuju pada voluntarisme-- pandangan bahwa
keinginan manusia dapat mengubah segala sesuatu, tanpa mempedulikan kondisi
materialnya. Jelas bahwa fatalisme dan voluntarisme mencerminkan kekacauan
idealisme dalam memahami hubungan antara benda dan ide.
Idealisme
adalah cara pandang filsafat yang dominan dalam perjalanan sejarah, karena
ketidaktahuan dan ketidakpedulian manusia sendiri. Kemunculan kapitalisme, yang
beriringan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, banyak membantu dalam
mengalahkan kekuatan idealisme dan meletakkan basis bagi materialisme.
Banyak
filsuf borjuis di masa awal kapitalisme adalah pemikir materialis. Pertentangan
antara idealisme dan materlisme, bagaimanapun tetap berlangsung sampai saat
ini. Ilmuwan borjuis tidak menerapkan materialisme secara konsisten terhadap
kenyataan sosial, khususnya kalau menganalisis ilmu sosial (sejarah,
antropologi dan sebagainya). Dalam bagian-bagian berikut akan kita
amati pertentangan idealisme dan materialisme lebih cermat, dengan mengacu pada
perdebatan di masa lalu dan juga masa kini.
Komponen
penting kedua dalam filsafat Marxis adalah dialektika, yang mengajukan
masalah, bagaimana dunia berkembang? Dialektika menyatakan bahwa semua
gejala, baik dalam alam dan masyarakat, pada dasarnya adalah proses yang terus
bergerak dan saling berhubungan, ketimbang sesuatu yang statis dan terasing.
Pandangan
ini menyatakan bahwa proses-proses ini adalah hasil dari kecenderungan yang
secara inheren berlawanan dan bertentangan, yang menjadi asas dari semua
gejala. Perkembangan dan hilangnya gejala dilihat sebagai hasil dari
pertentangan dan hasil dari kecenderungan yang berlawanan. Lebih lanjut, perubahan
benda-benda bukan hanya secara kuantitatif, tapi benda-benda justru memasuki
tahap-tahap perkembangan yang baru dan lebih tinggi sifatnya. Jadi, dalam alam
semesta, benda-benda muncul, berubah dan menghilang sebagai bagian dari
proses yang berjalan terus.
Seperti
materialisme dan idealisme, dialektika juga memiliki lawan, yaitu metafisika.
Metafisika memandang dunia sebagai kumpulan sejumlah entitas (satuan)
yang terpisah, yang statis dan tidak bergerak. Metafisika melihat segala
sesuatu terpisah satu sama lain, dan tidak melihat hubungan dari semuanya;
perubahan pun hanya dianggap sebagai hasil pengembangan atau kemunduran yang
sangat sederhana.
Jelas,
metafisika dan dialektika bertentangan cara pandangnya. Marxisme memasukkan
dialektika sebagai bagian dari cara pandangnya karena dialektika menjelaskan
gerak dan saling hubungan antara gejala dalam alam semesta, dan juga
menjelaskan perubahan kualitatif yang terjadi di dunia. Pandangan metafisis
takkan dapat secara tepat menjelaskan alam dan masyarakat yang senantiasa
bergerak dan terus menerus memunculkan gejala baru.
Lebih
lanjut, penggunaan cara pandang metafisis akan menghasilkan penglihatan politik
yang usang dan terbelakang. Jelas jika persoalan sosial dan pertentangan kelas
dapat dimengerti sebagai gejolak dan gelombang masyarakat statis, yang hanya
dipengaruhi oleh kondisi eksternal di luar kekuasaan kita, maka tujuan akhir
untuk mengubah masyarakat dan menciptakan tatanan baru menjadi tidak ada
artinya.
Filsafat
Marxis-Leninis telah memasukkan pencapaian ilmiah dari masa sebelumnya
dalam mengembangkan cara pandang materialisme dialektis. Marx dan Engels
bersandar pada karya filsafat borjuis bernama Feuerbach, yang telah menempatkan
cara pandang materialis pada titik yang amat maju, sebelum Marx dan Engels.
Namun, materialisme Feuerbach ini terbatas dengan memandang perubahan sebagai
sesuatu yang mekanis dan melihat gejala-gejala sebagai hal yang terpisah dan
statis. Serupa dengan itu, Marx dan Engels juga berpijak pada karya filsuf borjuis
yang bernama Hegel, yang melakukan hal yang sama dalam dialektika seperti
dilakukan Feuerbach dalam materialisme. Namun lagi-lagi kekurangannya, teori
Hegel tentang dialektika terbatas karena mengikat semua gejala pada satu sumber
yang spiritual. Pencapaian Marx dan Engels yang dahsyat adalah pengembangan
lebih lanjut dari karya-karya Feuerbach dan Hegel, dan penyatuan
prinsip-prinsip materialisme dan dialektika ke dalam satu cara pandang dunia
yang utuh, yakni materialisme dialektis. Seperti diperlihatkan mereka,
unsur-unsur dari materialisme dialektis tidak dapat dipahami sepenuhnya jika
dilihat sebagai dua unsur yang terpisah. Kita takkan berpikiran materialis jika
meniadakan kehadiran perubahan dan perkembangan di dunia, dan kita juga takkan
memahami perubahan dan perkembangan ini dengan baik jika tidak menempatkan
kondisi material sebagai hal yang menentukan. Marx dan Engels memperluas cara
pandang filsafat ini dalam pemahaman mereka tentang alam, masyarakat dan
pemikiran. (Karya filsafat Marx & Engels: The German Ideology,The Poverty
of Philosophy, Dialectics of Nature, Ludwig Feuerbach, dan Anti-Duhring)
Lenin
selanjutnya mengembangkan hasil kerja Marx dan Engels. Ia menyambut tentangan
borjuis terhadap materialisme dialektis pada zamannya, dan memberikan sumbangan
khusus bagi teori Marxis tentang pengetahuan dan metode dialektis. Karya-karya
filsafat Lenin adalah Materialism and Empirico-Criticism dan Philosophical
Notebooks. Sebagai cara pandang dunia yang umum, filsafat Marxis-Leninis
mengemukakan semua masalah dalam realitas sosial: alam, masyarakat dan
pemikiran. Materialisme dialektis sering dibahas dalam konteks pandangan Marxis
tentang alam. Dalam studi ini, kita juga akan mengamati penerapan filsafat
dalam bidang pemikiran dan masyarakat. Dalam pemikiran, kita akan menelaah
teori Marxis tentang pengetahuan. Ini adalah teori pengetahuan yang materialis
dan dialektis sekaligus, yang mulai dari pemahaman bahwa ide mencerminkan
realitas material dan bahwa pikiran berkembang dalam cara dialektis, dari hal
yang sederhana ke hal yang rumit. Teori pengetahuan adalah masalah filsafat
yang penting karena berurusan dengan hubungan antara pengetahuan dan
pengalaman, dan karena itu menempatkan kerja teoretis kita dalam hubungannya
dengan praktek politik.
Akhirnya, kita akan
mengamati filsafat Marxis dalam bidang masyarakat manusia, yaitu materialisme
historis. Di sini, materialisme historis juga dimulai dengan telaah terhadap
landasan material, yaitu cara manusia mengelola proses produksi untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, yang merupakan landasan munculnya tempat ide,
politik dan kebudayaan. Materialisme historis juga berwatak dialektis karena
melihat sejarah sebagai proses perubahan dan perkembangan. Dalam mempelajari
materialisme historis, kita akan melihat bagaimana filsafat Marxis menyediakan
bukan hanya pemahaman tentang masa lalu, tapi juga arah dan tuntunan bagi masa
depan. Secara khusus, materialisme historis Marxis memungkinkan kita menemukan
landasan eksploitasi kaptialis dan menunjuk jalan bagi pembangunan sosialisme.
Ini adalah unsur-unsur dari filsafat Marxis-Lenin
=============================================================