Sabtu, 10 Januari 2015

idealisme dan materialisme filsafat



Manusia harus mempunyai pedoman, agar hidupnya terarah. Agar tidak goyah menghadapi rintangan-rintangan yang dihadapi dalam proses perjalanan hidup. Oleh karena itu setiap aktifitas hidup pun perlu dibimbing oleh pedoman atau teori yang ada.
Dunia pergerakan sebagai sebuah profesi revolusioner yang telah atau sedang dan yang akan kita geluti untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan penghisapan kaum penindas pun memerlukan panduan berupa logika berpikir, tentunya logika berpikir yang sudah teruji keampuhannya dalam merontokan sistem penindasan. Adagium Rusia berkata: " Tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner “, adalah benar tentunya.
Persoalan logika berpikir adalah masalah hubungan antara pikiran dan keadaan,  atau antara ide (pikiran) dengan materi. Antara mana yang lebih dahulu (primer) dan sekunder antara ide dan materi? Dengan logika berpikir maka kita akan bisa memilah persoalan, membuat prioritas-prrioritas tentang hal-hal yang mendesak yang harus dilakukan seorang aktivis gerakan untuk perubahan.
Jawaban atas pertanyaan ini membagi dua aliran filsafat yaitu: Idealisme dan Materialisme.
              
Idealisme memandang bahwa ide lebih dahulu (primer), kemudian disusul oleh materi (sekunder).
Materialisme memandang sebaliknya. Materi dahulu (primer), baru melahirkan ide (sekunder)

IDEALISME

Filsafat idealisme terbagi menjadi dua sebagai  berikut :
Idealisme Obyektif yaitu idealisme yang memandang bahwa terdapat ide yang berada di luar eksistensi manusia dan alam semesta. Semua yang material adalah hasil karya ide yang berada di luar manusia. Segala fenomena alam maupun fenomena sosial adalah hasil rekayasa ide obyektif tersebut. Hegel menyebut ide di luar manusia itu sebagai “ide Absolut” yang tidak terbatas pada/oleh ruang/tempat atau waktu. Jadi bersifat kekal permanen.  Dalam kehidupan sehari-hari pemikiran Idealisme Obyektif mengambil bentuk penumpuan segala sesuatu kepada apa yang disebut dengan tuhan, dewa, dan kekuatan- kekuatan ghaib lainnya. Logika Mistik adalah salah satu bentuk filsafat Idealisme Obyektif.
Idealisme Subyektif yaitu idealisme yang memandang bahwa dunia materi adalah sensasi-sensasi manusia, sedangkan pikiran dan perasaan adalah satu-satunya zat (substansi) yang riil. Orang yang selalu menumpukan harapan-harapan kepada ide manusia adalah contoh orang yang idealis subyektif.
Idealisme Obyektif menyangkal adanya dunia materil yang obyektif dan mengakui dunia yang riil hanya dalam sensasi  manusia.
           

MATERIALISME

Filsafat materialisme memandang bahwa materi lebih dahulu ada (primer) sedangkan ide atau pikiran adalah sekunder. Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi menentukan ide, bukan  ide menentukan materi.
Contoh : Karena meja atau kursi secara obyektif ada maka orang berpikir tentang meja dan kursi. Bisakah seseorang memikirkan meja atau kursi sebelum benda yang terbentuk meja dan kursi belum atau tidak ada.

Filsafat Materialisme terbagi menjadi 4 (empat) :
a. Materialisme Primitif  
Faham materialisme yang berkembang pada zaman Yunani Kuno kira-kira 600 tahun sebelum masehi. Secara ilmiah masih sederhana tetapi merupakan cikal bakal dari paham materialisme. Materialisme primitif  inilah berperan  dalam perkembangan paham Materialisme selanjutnya.

b. Materialisme Mekanik
Materialisme mekanik memandang bahwa setiap gejala bagaikan mesin segala macam gerak dipandang hanya sebagai gerak mekanik yaitu pergeseran tempat dan perubahan jumlah saja tanpa perubahan secara kualitatif. Seperti gerak pada putaran rantai sepeda.

c. Materialisme Metafisik
Materialisme metafisik  memandang bahwa  :
gejala alam sebagai suatu yang kebetulan saja.
tidak ada saling hubungan  antara  materi  (materi terpisah- pisah).
Gejala alam adalah  diam,  tidak bergerak, berhenti, statis, mati dan tidak berubah-ubah.
Proses  perkembangan  materi sebagai proses sederhana, tidak ada perubahan kuantitatif ke perubahan kualitatif.

d. Materialisme Dialektika (Dialectica Materialism--DIAMAT)
Matrialisme Dialektika adalah materialisme yang memandang segala sesuatu selalu berkembang sesuai dengan hukum-hukum  dialektika. Hukum Dialektika: Hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku secara obyektif di dalam dunia semesta.

POKOK-POKOK PANDANGAN MATERIALISME DIALEKTIKA

A. DUNIA ADALAH MATERIL

Segala macam gejala yang ada di dunia mempunyai satu dasar yaitu materi. Dunia semesta ini pada dasarnya  adalah materil  dan dunia materil adalah satu-satunya  dunia yang nyata (riil)

DEFINISI MATERI
Secara filsafat
Segala sesuatu yang ada di luar dan tidak tergantung pada kesadaran manusia; Tidak dicipta dan dikendalikan oleh sesuatu ide apapun dan dapat menimbulkan sensasi serta melahirkan refleksi di dalam fikiran manusia.

Secara ilmu alam (fisika)
Fisika hanya memandang materi yang  ada di alam ini dari struktur (susunan)  dan organisasinya. Misalnya: Kapur terdiri dari unsur kimia zat perekat, zat pewarna dan kalsium. Masing-masing unsur kimia mempunyai komposisi zat perekat 14 %, pewarna 6% dan kalsium 80%. Pengertian materi secara fisika hanya sebatas hal-hal tersebut.
Pengertian materi secara filsafat berdasarkan saling hubungan antara keadaan dengan fikiran, antara obyek dengan subyek. Sedangkan  pengertian materi secara fisika  berdasarkan  tingkat perkembangan  pengetahuan manusia terhadap alam. Kembali kita bicara tentang kapur tulis tadi. Ilmu Pengetahuan manusia hingga saat masih belum menemukan adanya zat atau unsur kimia baru dalam komposisi tertentu di dalam susunan kapur tulis. Oleh karena itu, maka kapur tulis dalam Fisika disimpulkan berdasarkan tingkat pengetahuan manusia itu tadi, kapur tulis yaitu terdiri dari 14% zat perekat, 6% zat pewarna dan 80% kalsium.
Jadi pengertian materi secara filsafat lebih luas dan  bersifat  umum, tidak sebatas benda-benda atau  proses alam saja, tetapi juga  termasuk  fenomena-fenomena sosial. sedangkan pengertian  materi secara fisika hanya sebatas tentang benda-benda atau fenomena alam saja.
Pengertian materi secara filsafat bersifat mutlak dan abadi karena bagaimanapun majunya pengetahuan manusia tidak  akan  mengubah kebenaran bahwa materi itu  eksis  secara obyektif dan tidak tergantung pada kesadaran manusia, sedangkan pengertian materi secara fisika bersifat relatif dan sementara karena  bergantung pada perkembangan pengetahuan manusia.      
                 
DEFINISI  IDE
Materialisme berpendapat bahwa ide (pikiran) lahir dan ditentukan oleh materi, keberadaan ide adalah sekunder.
Dua  hal tentang  ide :
Ide dilahirkan semacam  materi tertentu   yang  akrab disebut otak atau organisme sistem saraf yang telah mencapai tingkat perkembangan yang  paling tinggi, karena tanpa otak maka tidak akan  ada ide  atau fikiran.
Otak atau sistem urat saraf adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam materil.
Ide adalah  pencerminan (refleksi/manifestasi) dari kenyataan obyektif. Ide adalah dunia materil yang  dicerminkan otak manusia dan diterjemahkan dalam bentuk-bentuk pikiran. Pencerminan hanya bisa terjadi dengan adanya kontak langsung antara kesadaran manusia dengan luar (materil) dengan adanya praktek sosial manusia. Oleh karena itu ide juga merupakan proses perkembangan praktek sosial manusia. 




PERAN DAN AKTIF IDE
Walaupun Materialisme Dialektika berpendirian bahwa materi adalah primer dan ide  adalah sekunder namun tidak mengabaikan peranan aktiif ide terhadap (perkembangan) materi dalam arti :   
Ide adalah pencerminan diri kenyataan obyektif. Pencerminan disini bukanlah pencerminan yang sederhana dan langsung tetapi merupakan pencerminan yang aktif melalui pemikiran yang rumit (canggih) sehingga dapat mencerminkan kenyataan obyektif apa adanya secara keseluruhan. Karena adanya peranan aktif ide, maka manusia dapat mengembangkan cara atau alat (perkakas) untuk memperbesar kemampuan dalam mengenal atau mencerminkan maupun mengubah keadaan.
Dalam mengenal dan mengubah keadaan materil manusia melakukannya dengan sadar untuk memenuhi kebutuhan praktek sosialnya. Ide revolusioner inilah yang mencermminkan hukum-hukum perkembangan kenyataan obyektif, memainkan peranan pendorong perkembangan keadaan.  
Jadi, ide tergantung pada materi. Ide bisa menjangkau ke depan melampaui materi tetapi tidak bisa telepas dari materi. Materi  menentukan ide, tetapi ide mempengaruhi perkembangan materi. Disinilah letak peranan aktif ide dalam praktek. 
Praktek adalah aktifitas manusia mengenal dan mengubah keadaan materi. Praktek mempunyai kedudukan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Dengan praktek manusia melahirkan ilmu pengetahuan, menguji dan mengembangkannya. Perkembangan dan kemajuan teori ditentukan oleh sejauh mana kemajuan praktek. Disinilah letak dialektika antara teori dan praktek.
              

B. DUNIA MATERIL ADALAH SATU KESATUAN ORGANIK

Terdapat saling hubungan secara organik, saling bergantungan, saling mempengaruhi, saling menentukan satu sama lain pada dunia materil.
Contoh: Siapa yang berani mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara tumbangnya Soeharto dengan naiknya harga-harga barang atau dengan semaraknya gerakan mahasiswa di berbagai kota?  Krisis ekonomi global yang juga melanda Indonesia ditandai dengan melonjaknya harga sembako telah mendorong mahasiswa untuk turun ke jalan-jalan untuk memprotes penguasa yang korup dan nepotis. Bukankah bertambah parahnya ekonomi Indonesia disebabkan karena tidak beresnya sistem politik yang dilanggengkan Soeharto. Oleh karena itu, Soeharto harus digulingkan lebih dulu dan sistem politik harus dibenahi. Dengan harapan bahwa kalau sistem politik sudah benar maka tidak ada lagi kesempatan bagi penguasa untuk melakukan korupsi yang menyengsarakan rakyat.
              
Saling hubungan gejala-gejala adalah obyektif
Saling hubungan gejala-gejala adalah suatu hukum yang obyektif berlaku di dunia semesta ini. Saling hubungan bukan merupkan terkaan atau  buatan manusia. Saling hubungan memang ada secara obyektif. Oleh karena itu saling hubungan gejala-gejala bukan perwujudan dari ide-ide atau pikiran manusia dan sebagainya. Saling hubungan gejala-gejala tidak tergantung pada kesadaran manusia.

Segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat dan waktu
Dengan mengakui bahwa saling hubungan gejala-gejala sebagai sebuah kenyataan obyektif maka kita juga harus mengakui bahwa segala sesuatu gejala juga tergantung pada keadaan, tempat dan waktu.
Contoh: Kita tidak akan melakukan gerakan politik klandestin/ bawah tanah sebelum Soeharto rontok jika kondisi Indonesia saat itu sudah demokratis. Karena kondisi Indonesia pada era Soeharto represif maka kita bergerak dengan strategi illegal.
Contoh lain: Tidak mungkin di negara barat kita mamaksakan agar hukum/adat timur dipakai disana sementara orang barat masih cinta dan mempertahankan adat tersebut.

C. DUNIA MATERIL SENANTIASA BERGERAK DAN BERKEMBANG

Dunia materil senantiasa bergerak dan berkebang sesuai keadaan, tempat dan waktu.
Gerak materi adalah gerak sendiri
Karena gerak adalah bentuk keberadaan yang tidak bisa dilepaskan dari materi maka dapat dikatakan bahwa materi mempunyai gerak sendiri sebab esensi materi adalah gerak (intern materi)  yang  paling  menentukan, sedangkan gerak ekstern hanya mempengaruhi saja.
Contoh: Dalam suhu 50 derajat Celcius selama 21 hari maka telur akan menetaskan anak ayam, sedangkan dalam suhu dan waktu yang sama, batu tidak mungkin akan menetaskan anak ayam.
Ini artinya bahwa setiap materi mempunyai sifat gerak sendiri-sendiri yang tidak bisa disamakan dengan materi yang lain. Jadi, gerak dalam (faktor intern) yang paling menentukan, sedangkan gerak luar (faktor ekstern) hanya syarat saja.


Diam adalah salah satu bentuk gerak
Kita yakin bahwa materi senantiasa bergerak dan berkembang, namun tidak menutup kemungkinan adanya keadaan materi yang 'diam'. Diamnya materi bukan berarti materi itu berhenti bergerak atau materi itu telah hilang sifatnya yang esensial. Tapi 'diam'nya materi disebabkan terjadinya keseimbangan antara gerak dalam materi (faktor intern) dengan gerak luar (faktor ekstern). Artinya, ada kesamaan kualitas antara gerak dalam dengan gerak luar.
Contoh: Seandainya aku mendorongkan kepalaku ke tembok dengan kekuatan 2 tenaga kuda sedangkan tembok tidak juga jebol, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kemungkinan tembok mempunyai kekuatan lebih atau sama dengan 2 tenaga kuda. Sehingga akibatnya tembok tidak jebol. Coba kalau kekuatan tembok di bawah 2 tenaga kuda. Bisa dipastikan temboknya jebol.
Contoh lain: Bisakan kita bayangkan Paket 5 UU Politik dan Dwifungsi ABRI dicabut sementara kekuatan revolusioner yang menuntut hal itu masih lemah? Atau kalah dengan kekuatan kaum Reaksioner Habibie-Wiranto yang pro satus quo. Mengapa Paket 5 UU Politik tidak dicabut? Tentu jawabnya adalah karena kekuatan revolusioner masih lemah, kecil atau mungkin karena kekuatan revolusioner masih seimbang dengan kekuatan reaksioner pro kekuasaan. Lemahnya kekuatan revolusioner ini karena tidak adanya tuntutan yang sama dalam gerakan revolusioner itu sendiri. Ada yang menghendaki Dwifungsi ABRI dicabut sekarang juga (PRD, Forkot, Fampred, Komrad, dll) sementara ada yang menghendaki Pencabutan Dwifungsi ABRI dilakukan bertahap selama 6 tahun (Kelompok Ciganjur--Megawati, Amien Rais, Gus Dur dan Sri Sultan HB X). Dan lain-lain.

D. HUKUM DIALEKTIKA MATERIL

Berangkat dari pengertian bahwa HUKUM DIALEKTIKA adalah hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku secara obyektif dalam dunia semesta. Maka dapat ditarik benang merah bahwa saling hubungan dan perkembangan materi /gejala-gejala merupakan dua segi dialektika yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lainnya.
Ada 3 pokok hukum dialektika materil
1. Tentang Kontradikasi
Hukum tentang kontradiksi merupakan esensi dari hukum dialektika karena kontradiksi (pertentangan) mengungkapkan sumber atau asal-usul dan hakekat perkembangan. Hukum kontradiksi mengajarkan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian atau segi-segi yang berbeda atau kontradiksi dan gerak atau perkembangan sesuatu itu  terutama disebabkan  adanya saling hubungan yang berupa persatuan dan perjuangan antara segi-segi yang berkontradiksi yang  ada di dalamnya.
1.a. Keumuman Kontradiksi
Hukum kontradiksi adalah  umum dan universal. Bahwa dalam fenomena material terdapat kontradiksi-kontradiksi yang terjadi secara umum dalam seluruh proses gerak materi. Setiap hal tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.                        
Contoh: Dalam sejarah perkembangan masyarakat kita bisa melihat silih bergantinya kontradiksi yang terjadi. Pada tahap masyarakat PERBUDAKAN terjadi kontradiksi kelas antara Tuan Budak dengan Budak; kemudian pada tahap masyarakat Feodal terjadi kontradiksi antara kelas Tuan Tanah dengan Petani (Buruh-Tani) dan kontradiksi antara kelas Bangsawan Feodal dengan kelas Borjuis yang koeksistensi dengan kelas Proletar. Ketika tahap masyarakat Feodal tumbang dan diganti oleh tahap masyarakat baru yaitu masyarakat Kapitalisme, terjadi pertentangan klas (kontradiksi) antara klas Borjuis (kapita lis) dengan klas Proletar (buruh).
Dari contoh di atas kita dapat melihat dan sekaligus menyimpulkan bahwa dalam satu keseluruhan proses perkembangan materi senantiasa terjadi kontradiksi atau secara umum bisa dikatakan berlakunya hukum dialektika.



1.b. Kekhususan Kontradiksi
Kontradiksi mempunyai kekhasan yang membedakan hal satu dengan lainnya pada tingkat yang berbeda dari proses perkembangan. Juga mempunyai kekhususan dalam kontradiksi yang membedakan tingkat perkembangan yang satu dari lainnya.
Contohnya: Masih dengan contoh sejarah perkembangan masyarakat. Pada tahap masyarakat Perbudakan terjadi kontradiksi antara budak dengan Tuan Budak, sementara pada tahap masyarakat Feodal terjadi kontradiksi klas tani dengan klas tuan tanah; dan pada tahap masyarakat Kapitalisme, kontradiksi terjadi antara klas Borjuis dengan klas proletar.
Kekhasan / kekhususan kontradiksi dalam contoh di atas adalah ciri khas masyarakat. Perbudakan adalah kontradiksi antara budak dengan Tuan Budak. Tidak bisa disamakan dengan kekhasan masyarakat. Feodal yang bercirikan kontradiksi antara tani dengan Tuan Tanah.
Kalau dalam masyarakat Feodal yang dipertentangkan adalah perihal kepemilikan tanah, maka dalam masyarakat Kapitalis yang dipertentangkan adalah kepemilikan modal dan alat-alat produksi. Dengan kata lain: Khasnya masyarakat Feodal adalah tanah sebagai yang dipertentangkan, sedangkan khasnya masyarakat Kapitalis adalah modal yang dipertentangkan. Dan lain-lain.

1.c. Kontradiksi pokok dan bukan pokok
Kontradiksi pokok adalah kontradiksi yang menjadi poros dan memimpin semua kontradiksi bukan pokok. Dalam penyelesaian kontradiksi, maka kontradiksi pokok diutamakan.
Dalam setiap perkembangan hanya ada satu kontradiksi pokok yang memegang peranan memimpin dan menentukan. Kontradiksi pokok memainkan peranan yang memimpin kontradiksi-kontradiksi lainnya pada satu tingkatan perkembangan tertentu maka ia merupakan dasar persoalan yang harus dipecahkan lebih dulu dan hanya  dengan demikian kontradiksi-kontradiksi lainnya  baru bisa dan lebih muda diselesaikan.
Walaupun demikian bukan berarti kontradiksi-kontradiksi yang bukan pokok tidak ada peranannya atau pengaruhnya sama sekali terhadap penyelesainnya kontradiksi pokok. Sebaliknya perkembangan kontradiksi-kontradiksi itu mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap penyelesaiannya kontradiksi pokok.
Contoh: Era pasca Soeharto tumbang terjadi pertentangan antara Kaum revolusioner/reformis dengan kaum reaksioner--pro satus quo (Habibie-Wiranto). Sementara di dalam tubuh kaum revolusioner/reformis sendiri juga terjadi kontradiksi pendapat--sikap terhadap sistem/penguasa Habibie-Wiranto. Misalnya kontradiksi antara PRD dengan kelompok moderat.
Manakah kontradiksi pokok dan bukan pokoknya?
Kontradiksi pokoknya adalah kontradiksi antara Kaum Revolusioner / reformis dengan kaum Reaksioner-pro status quo. Ini kontradiksi yang harus didahulukan penyelesaiannya. Sedangkan kontradiksi antara kelompok revolusioner/reformis sendiri adalah kontradiksi bukan pokok. Kontradiksi bukan pokok (antara pro-demokrasi) ini harus ditunda dulu. INGAT, bukan diabaikan !. Ketika kontradiksi pokok terselesaikan maka secara otomatis kontradiksi bukan pokok turut terselesaikan.
               

1. d. Segi-segi yang kontradiksi
Setiap kontradiksi terdiri dari 2 segi yang mmempunyi arti peranan dan kedudukan yang berbeda, ada yang menguasai dan ada yang dikuasai, ada yang memimpin dan yang dipimmpin. Dalam keadaan tertentu dua segi itu berada dalam kedudukan yang seimbang tetapi bersifat relatif dan sementara.
Segi yang berperanan menguasai atau mendominasi dalam seluruh proses perkembangan  mempunyai arti yang menentukan kualitas kontradiksi. Segi yang berperanan memimpin pada tingkat-tingkat perkembangan mempunyai arti yang menentukan terhadap arah yang dituju oleh perkembangan kontradiksi itu pada tingkatan tertentu.
Segi yang baru pada awal proses perkembangan kontradiksi masih mudah dan merupkan segi yang dipimpin dan dikuasai. Dalam proses selanjutnya ia akan tumbuh menjadi besar dan kuat sehingga memimpin dan mendominasi. Bila hal ini terjadi berarti kualitas kontradiksi itu telah mengalami peruubahan.
Contoh: Pada Era Soeharto terjadi kontradiksi antara Rezim Soeharto dengan PDI Perjuangan.Ketika Soeharto berkuasa, Soeharto lah yang memimpin, menentukan dan dominan. Tapi ketika Soeharto ambruk, PDI Perjuangan ganti memimpin, mendominasi, menentukan, mengarahkan dan menguasai. Segi yang berkontradiksi dalam contoh tersebut adalah segi Rezim dan satu segi lagi yaitu segi PDI Perjuangan.

2. Tentang Perubahan Kuantitatif ke Perubahan Kualitatif
Hukum perubahan kuntitatif keperubahan kualitatif menerangkan jalannya proses perkembangan segala sesuatu.
Perubahan kuantitatif adalah perubahan jumlah (bertambah/berkurang) susunan, hubungan dan komposisi materi yang berlangsung secara evolusioner sampai pada batas waktu tertentu. Perubahan kuantitatif merupakan syarat untuk menuju keperubahan kuantitatif.
Perubahan kuantitatif menyiapkan perubahan kualitatif dan perubahan kualitatif menyelesaikan perubahan kuantitatif yang lama dan melahirkan serta mengembangkan perubahan kuantitatif yang baru. keduanya berlangsung terus menerus secara bergiliran.

3. Hukum tentang negasi dari negasi
Hukum negasi dari negasi menunjukan orientasi gerak dan perkembangan segala sesuatu. Hukum ini menggungkapkan pergantian kualitas lama dengan dengan kualitas baru dalaam proses perkembangan dan peningkatan dari bentuk-bentuk yang rendah dan sederhana kebentuk yang lebih tinggih dan kompleks.
Perkembangan materi mengulangi tingkat-tingkat yang pernah terlampui tetapi mengulanginya secara lain di atas yang lebih tinggi. Contoh: Dalam sejarah masyarakat bisa kita lihat bagaiamana masyarakat komunis akan menjadi tahap masyarakat yang final setelah terjadi perubahan dari tipe masyarakat sebelumnya, yaitu: Komunal Primitif--Perbudakan--Feodal--Kapitalisme--Sosialisme. Setelah masyarakat sosialis maka lahirlah masyarakat komunis baru yang lebih maju dari tipe masyarakat Komunal Primitif, dan Lain-lain.

E. PENUTUP
Demikianlah Hukum Dialektika Materialis yang mengajarkan pada kaum pergerakan bagaimana menyelesaikan atau mengakhiri suatu konntradiksi yang terjadi dalam masyarakat. Kontradiksi antara rakyat yang tertindas dengan kaum militeris kapitalis yang menindas hanya bisa diselesaikan dengan perubahan kuantitatif dalam hal ini metode perjuangan,teori perjuangan daan strategi taktik perjuangan Kemudian pasti akan disusul dengan Perubahan Kualitatif berupa runtuh atau tumbangnya Masyarakat Militeris-Kapitalis yaitu masyarakat damai, masyarakat yang

============================================================









Filsafat : Landasan bagi Pergerakan

Studi kita tentang teori Marxis akan dimulai dengan pengama­tan terhadap filsafat Marxisme, yaitu materialisme dialektis. Kita harus mulai dari filsafat karena filsafat memberikan landasan bagi pemahaman kita tentang ekonomi politik, strategi politik dan masalah teoretis lain yang kita hadapi dalam pergerakan. Filsafat memberikan cara pandang dan metode untuk menelaah semua persoalan yang dihadapi oleh pergerakan. Materialisme dialektis juga memberikan jangkar ilmiah yang kokoh tempat berpijaknya aktivitas kita dalam pergerakan.
Untuk memulai pembahasan ini kita harus menjawab pertanyaan:
Apa itu filsafat? Secara singkat filsafat dapat dikatakan sebagai teori umum tentang kenyataan. FIlsafat meliputi penelahaan terha­dap berbagai hal mendasar seperti hubungan antara berpikir dan keadaan (thinking and being); bagaimana segala sesuatu berubah dan berkembang; apakah ada kehidupan lain setelah tubuh mati atau tidak;  dan sebagainya. Singkatnya, filsafat mengamati semua masalah yang berurusan dengan alam, masyarakat dan pikiran.
Karena itulah filsafat menjadi titik tolak yang sangat baik untuk studi kita. Pengetahuan kita tentang ekonomi politik yang sudah dimiliki kini bisa diperiksa kembali landasan filsafatnya, apakah sudah berpijak pada cara pikir yang konsisten dan tepat atau belum.
Selama perjalanan sejarah manusia, sudah tak terhitung jumlah filsuf di dunia. Mulai dari pemikir-pemikir dalam masyarakat Yunani seperti Aristoteles, Plato, Socrates dan seterusnya sampai pada pemikir-pemikir modern seperti John Stewart Mill dan Bertrand Russell. Dalam studi ini, kita tidak akan mengulas semua pikiran yang pernah dijabarkan manusia selama hidupnya, juga tidak sebagian dari mereka seperti yang lazimnya dilakukan oleh studi-studi filsafat. Titik berangkat kita adalah filsafat Marxis yang merupakan ungkapan filsafat yang paling maju dalam sejarah manusia.
Atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa Marxisme adalah ungkapan filsafat tertinggi yang pernah dibuat manusia ?
Pertama, karena akar dari materialisme dialektis ada pada  proletariat dan dengan karena itu, filsafat tsb juga menjadi cara pandang dunian­ya. Proletariat tidak berkepentingan untuk memisahkan masyarakat dalam kelas-kelas atau mempertahankan pemisahan yang sudah ada.
Proletariat senantiasa berusaha memahami dunia dari sudut yang obyektif dan ilmiah. Semua aliran filsafat terdahulu terikat pada pandangan subyektif yang berusaha mempertahankan struktur kelas yang eksploitatif, tentunya demi keuntungan kelas penguasa.
Filsafat Marxis-Leninis adalah filsafat pertama yang secara utuh dan lengkap bersandar pada kelas yang tidak punya kepentingan menindas dan dengan begitu mewakili cara pandang obyektif dan revolusioner di dunia. Kenyataan bahwa Marxisme-Leninisme terang-terangan merupakan pandangan yang membela tujuan dari kelas buruh sama sekali tidak bertentangan dengan asasnya yang obyektif dan ilmiah. Justru karena filsafat ini bersandar pada kelas buruh, maka ia dapat memberikan pandangan ilmiah terhadap kenyataan. Marx dan Engels suatu saat mencatat: "Sama halnya seperti filsafat menemukan senjata materialnya di dalam proletariat, maka proletariat menemukan senjata spiritual mereka dalam filsafat. (Marx dan Engels, dikutip dalam Handbook of Philosophy, disunting oleh Howard Selsam, Proletarian Publisher, 1949.)
Namun, "senjata spiritual" yang disebut Marx di sini sama sekali bukan berarti "kepercayaan" atau optimisme berlebihan. Filsafat di sini justru berfungsi sebagai alat intelektual khususnya cara pandang yang revolusioner dan ilmiah yang sangat penting untuk menjalankan tugas dan strategi di dalam pergerakan.
Tentu saja, kebutuhan untuk memahami filsafat Marxis semakin terasa saat ini jika dibandingkan sekitar seratus tahun lalu. Rumitnya perkembangan internasional dengan situasi pertentangan kelasnya, dan juga perbedaan-perbedaan di kalangan revolusioner sendiri, makin mendesakkan kebutuhan akan adanya pemahaman yang seragam terhadap filsafat Marxis. Sayangnya, banyak orang yang menamakan dirinya revolusioner meniadakan kebutuhan ini, filsafat sering diabaikan dan diremehkan dalam gerakan revolusioner yang luas. Kebanyakan orang menyingkirkan persoalan filsafat ini karena dianggap kebutuhan akan jawaban-jawaban terhadap persoalan langsung dan kongkret itu jauh lebih penting. Pendekatan pragma­tis seperti ini telah meniadakan atau mengecilkan arti dari filsafat Marxis sebagai alat yang sangat penting bagi kelas proletariat. Sebaliknya, banyak orang lain yang terlalu terpaku secara dogmatik terhadap filsafat ini, dan mengabaikan bahwa yang terpenting bagaimanapun adalah kemampuan menelaah dan menyelesai­kan  persoalan. Hal seperti ini memerlukan studi teori dan juga belajar terus menerus dari praktek politik sehari-hari, secara bersamaan, tanpa mengunggulkan yang satu di atas yang lain. Seperti dikatakan Lenin: "Tidak akan ada revolusi tanpa teori revolusioner." Dalam kesempatan lain dikatakannya bahwa teori revolusioner juga hanya mungkin muncul dari gerakan revolusioner itu sendiri.

I. Filsafat dan Kelas

Untuk mempelajari filsafat Marxis, penting bagi kita untuk memblejeti beberapa kesalahpahaman terhadap filsafat yang amat sering terjadi. Kiranya kesalahpahaman yang paling sering terjadi dalam masyarakat adalah bahwa filsafat hanya ada di benak para pemikir besar, dan tidak ada hubungannya dengan kenyataan sehari-hari. Dalam kenyataannya, filsafat sama sekali bukan milik sege­lintir  pemikir besar, tapi cerminan dari organisasi sosial ma­syarakat dan watak dari produksi sosial tertentu. Walaupun filsa­fat diungkapkan oleh individu tertentu, isinya jelas dipengaruhi oleh cara pandang dan kepentingan kelas dari individu tersebut. Dengan kata lain, dalam memberikan gambaran tentang kenyataan, filsafat sudah mengambil posisi sosial tertentu terlebih dulu. Mungkin saja benar bahwa kebanyakan filsafat ada di luar jang­kauan masyarakat luas (sering dibilang bahwa filsafat itu menga­wang-awang, tidak menyentuh kenyataan dan seterusnya), tapi yang jelas bahwa filsafat itu berakar pada kondisi sosial tertentu. Ini hal yang tidak mungkin dibantah.
Filsafat telah hadir di dunia begitu manusia punya waktu untuk melihat kembali apa yang terjadi di dunia. Pengembangan kemampuan pikiran manusia –seperti filsafat, politik, kebu­dayaan-- hanya mungkin ada kalau tidak semua orang secara utuh terikat pada kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam masyarakat primitif, hanya ada sedikit waktu untuk berfilsafat, karena kebutuhan ekonomi cenderung menyerap seluruh kerja dan energi manusia. Dalam usaha menjelaskan teka-teki kehidupan --kenapa hujan jatuh dari langit, apa yang membuat matahari bersinar-- manusia hanya dapat memberi penjelasan yang mitos sifatnya. Mereka sama sekali tidak punya pemahaman ilmiah terhadap hal-hal ini dan karenanya mereka cenderung memberikan penjelasan spiritu­al terhadap hal-hal yang sesungguhnya material (misalnya, dewa matahari, dewa hujan, dan sebagainya). Dengan begitu, masyarakat didominasi atau dikuasai mitologi --yang pada dasarnya adalah penggantian kenyataan dengan fantasi-- ketimbang filsafat.
Dalam perjalanannya, manusia berhasil membuat terobosan-terobosan ilmiah dan dapat menggunakan sejumlah pengetahuannya untuk melengkapi caranya memandang dunia. Tidak ada gunanya lagi memberikan penjelasan spiritual terhadap segala sesuatu, karena penjelasan ilmiah sudah dikembangkan untuk gejala-gejala tertentu (misalnya, sebab adanya api, apa yang membuat tumbuhan berkem­bang). Hasilnya, masyarakat mulai berpaling dari mitologi kepada filsafat. Namun, karena keterbatasan pengetahuan, manusia belum sepenuhnya dapat meninggalkan penjelasan spiritual. Mistisisme tetap menjadi kekuatan berpengaruh dalam filsafat, dan akhirnya berkembang menjadi agama-agama yang lebih kompleks sifatnya dalam masyarakat modern (Yudaisme, Katolisisme, dan lainnya).
Ketika kemanusiaan itu berkembang, demikian pula masyarakat kelas dan penindasan kelas. Akhir dari masyarakat primitif menandai awal dari zaman baru di mana manusia dibagi-bagi menjadi penguasa dan yang dikuasai. Ketika hal ini muncul,filsafat mulai mencerminkan posisi kelas dan orientasi kelas. Dapat dimengerti bahwa filsuf kerajaan mencerminkan kepentingan kelas penguasa. Seperti dikatakan Marx dan Engels, "Ide kelas penguasa dalam zaman apapun adalah ide yang berkuasa; yaitu, kelas yang merupakan penguasa kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama adalah kekuatan intelektual yang berkuasa. (Marx & Engels,The German Ideology, dalam Selsam & Martel,Reader in Marxist Philosophy,_International Publisher,h.189.)
Filsafat dari semua masyarakat --sampai sekarang ini-- adalah refleksi intelektual terhadap kerangka kelas tertentu dan kondisi sosial. Misalnya, dalam masyarakat perbudakan pandangan sosial yang dominan adalah "warga" (citizen). Pandangan ini mengandung aspirasi dari kelas tertentu, yaitu kelas pemilik budak. Pandangan ini mengunggulkan individu untuk memiliki sesua­tu --tanah dan juga manusia-- dan untuk terlibat dalam kegiatan politik dan intelektual masyarakatnya. Karena itulah masyarakat perbudakan mengembangkan demokrasi hanya untuk para pemilik budak. Filsafat mereka menjadi kode etik bagi kelas pemilik budak. Sama halnya, filsafat yang dominan dalam zaman feodal dapat diartikan sebagai pembenaran terhadap hirarki feodal yang ketat. Terutama dikembangkan oleh gereja Katolik, cara pandang ini mengembangkan cara pandangan statis tentang tata susun ma­syarakat. Tidak heran bahwa dalam cara pandang ini petani peng­garap menempati urutan paling bawah sementara raja dan bangsawan lainnya ada di tingkat paling atas.
Ini bukan untuk mengatakan bahwa filsafat itu hanyalah akal-akalan penguasa untuk mengelabui mereka yang tertindas. Filsafat berakar dalam kondisi sosial yang nyata di setiap zaman dan karena itu selalu terbatas pada tingkat pengetahuan manusia.
Dalam periode sejarah manapun tidak akan mungkin dibuat analisis obyektif terhadap semua gejala alam dan gejala sosial, karena manusia tidak cukup pengetahuannya untuk memahami semua hal. Pada batas-batas kemampuan mereka menganalisis dunia, maka analisis ini diwarnai oleh kondisi kelas dan oleh cara berfungsinya ma­syarakat selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Singkatnya, tiada pikiran di dunia ini yang terlepas dari kondisi sosial. Semua pikiran,dengan cara berbeda-beda jelas dipengaruhi kondisi sosial. Lebih lanjut, seluruh masyarakat tak pernah secara utuh dan lengkap disatukan di bawah satu filsafat tertentu. Sering terjadi perdebatan filsafat di kalangan kelas penguasa sendiri, dan juga di antara kelas-kelas. Dalam masyarakat perbudakan, misaln­ya, debat filsafat muncul antara sayap progresif dan reaksioner dari kelas penguasa. Plato mengungkapkan kepentingan dari aris­tokrat pemilik budak yang reaksioner menentang pandangan dialek­tis, yang materialis tapi primitif dari Demokritus dan Herakli­tus. Di pihak lain, Aristotle berulangkali mengkritik teori-teori idealis dari Plato dan menjunjung pendekatan yang lebih materialis untuk memahami dunia. Jadi, sekalipun kedua alur pikiran ini berakar pada kelas pemilik budak, keduanya tidak mengembangkan cara pandang filsafat yang sama.
Ketika kaum borjuis muncul menentang kekuasaan feodal, mereka dipersenjatai dengan filsafat baru. Cara pandang borjuis mengutamakan  kebebasan individu, dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang sudah terikat pada nasib, tapi sebaliknya setiap orang dapat bekerja sesuai keinginannya untuk maju. Perkembangan ini tercermin secara religius dalam debat antara Katolisisme dan Protestanisme. Sebenarnya, cara pandang Protestan adalah kebutu­han kaum borjuasi untuk mematahkan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh feodalisme, agar bebas membuat barang, agar bebas memasuki pasar dan mengambil keuntungan.
Para pemikir abad Pencerahan (Eropa abad 18) adalah filsuf-filsuf borjuis. Mereka menulis tentang pentingnya "kebebasan" dan "kemerdekaan" dari sudut pandang ekonomi, politik dan intelektu­al. Para pemikir ini juga menjunjung tinggi kekuatan akal yang begitu besar dari manusia. Mereka memandang pikiran manusia sebagai kekuatan besar, yang sanggup membawa perubahan di dunia. Tetapi, walaupun pemikir Abad Pencerahan ini, seperti Voltaire, Diderot dan Hegel mengembangkan pengertian tentang pentingnya "kebebasan",  "kemerdekaan",  dan "akal", filsafat mereka juga harus dilihat dalam konteks aspirasi borjuis. Seruan akan kebeba­san diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dari kelas feodal yang membuat sebagian besar penduduk --dan khususnya kaum borjuis sendiri-- terikat secara ekonomi dan politik. Mereka memajukan akal sebagai bagian dari proses mengkritik dan menggerogoti batasan-batasan ekonomi, politik dan intelektual yang dihasilkan keterbelakangan feodalisme.
Jelas bahwa filsafat senantiasa harus ditempatkan dalam konteks sosial dan kondisi kelas. Walaupun bayangan kita tentang filsafat itu sebagai sesuatu yang seakan lepas dari kenyataan, kita harus tahu bahwa filsafat hanya dapat dimengerti sebagai sesuatu yang sangat erat ikatannya dengan kondisi kongkret. Lebih lanjut, sejarah pertentangan filsafat bukan hanya debat antara gagasan-gagasan yang mengasyikkan, tapi cerminan dari  pertentan­gan kelas dan kondisi kelas. Seperti kita lihat, kelas-kelas yang tertindas dalam masyarakat tertentu sering mengembangkan cara pandang yang menentang filsafat penguasa -- contohnya, pikiran kaum borjuis yang muncul menentang tata susun feodal. Sama halnya, filsafat Marxisme-Leninisme adalah bagian dari pertentangan kelas pada masa sekarang. Materialisme dialektis dirumuskan dalam periode mana kontradiksi dan ketidakmampuan cara produksi kapitalis menjadi jelas. Filsuf borjuis, dengan seruan mereka tentang "kebebasan" dan "kemerdekaan" tak lagi memainkan peran revolusioner dan tak dapat menjelaskan kegagalan dari cara produksi yang baru itu.Filsafat borjuis mengunggulkan kebebasan individu untuk terlibat dalam produksi, pertukaran dan penghisa­pan hasil kerja orang lain; dan dengan begitu memberikan alasan dasar bagi kapitalisme. Titik berangkat dari filsafat Marxis adalah melihat kenyataan real dan material sebagai hal utama dan memahami bahwa masyarakat manusia, gagasan dan nilai berangkat dari kondisi material tsb. Dengan begini, filsafat Marxis dapat membuka selubung yang menutupi realitas obyektif dari penindasan dan penghisapan kapitalis. Tapi filsafat Marxis juga berbicara untuk kelas tertentu  --proletariat.  Filsafat Marxis menyediakan alat untuk mengenali proletariat sebagai obyek dari penindasan kapitalis, dan dengan begitu mendukung perjuangan proletariat menentang penindasan. Lebih lanjut, filsafat Marxis tidak memberikan pandangan yang statis tentang dunia, seperti yang dilakukan oleh filsafat dari zaman feodal dan perbudakan. Salah satu unsur kunci dari filsafat Marxis adalah mengenali perubahan dan pertentangan di dunia, yaitu bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan bahwa kontra­diksi dapat dipecahkan sehingga manusia dapat bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan begitu, filsafat Marxis membantu menge­nali proletariat bukan hanya sebagai korban dari penindasan kapitalis, tapi juga sebagai agen perubahan. Bersandar pada kenyataan bahwa proletariat sebagai kelas bertanggungjawab pada keseluruhan  produksi, filsafat Marxis melihat kelas ini sebagai kekuatan yang dapat menghancurkan tata kapitalis dan menghadirkan cara produksi yang baru (sosialisme) di dunia.

II. Marxisme: Pembalikan Revolusioner dalam Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu.
Di atas kita telah mencatat arti penting dari filsafat Marxis sebagai alat memahami kondisi obyektif yang eksploitatif dari kapitalisme dan sebagai "senjata spiritual" bagi proletariat dalam perjuangan mereka menentang kapitalisme dan demi sosialis­me.
Kita dapat memperdalam pengertian ini, pengertian tentang signifikansi revolusioner dari filsafat Marxis dengan mengamati bagaimana filsafat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menggabungkan filsafat dengan ilmu. Ilmu berbeda dari filsafat karena ilmu hanya memberikan pengetahuan tentang wilayah khusus dari alam atau masyarakat, sementara filsafat berusaha memberikan gambaran menyeluruh dari hukum-hukum alam, masyarakat dan pikiran. Ilmu, yang menggunakan metode investigasi yang empiris dan teoretis, mempelajari bidang tertentu seperti biologi, fisika, sejarah dan antropologi. Ilmu mengambil kesimpulan langsung dari penyelidikan terhadap alam dan masyarakat, dan menguji kebenaran kesimpulan ini melalui praktek --dan bukan hanya "dalam pikiran". Sumbangan yang beragam dari para ilmuwan dan filsuf terhadap pengetahuan manusia dapat segera dilihat dengan membandingkan ilmuwan seperti Galileo, Newton, Darwin dan Einstein dengan filsuf macam Plato, Thomas Aquinas dan Hegel. Namun, terlepas dari pembedaan di antara kedua bidang ini, juga ada hubungan yang sangat erat. Dalam hubungan ini filsafat melingkupi pengetahuan tertentu yang diperoleh dari ilmu ke dalam pandangan dunia dan metodologi yang lengkap, dan dengan begitu menyediakan kerangka teoretis yang umum demi kemajuan ilmu. Jika hubungan ini dikacaukan pada salah satu  sisi, maka kesalahan fatal adalah akibatnya. Tidak ada orang yang memahami hubungan antara ilmu dan filsafat lebih ketat daripada Marx, yang pada saat bersamaan adalah seorang ilmuwan sosial yang cemerlang sekaligus filsuf revolusioner. Marx sekaligus menghasilkan ilmu sejarah dan masyarakat serta filsafat yang merangkum hukum-hukum paling umum dari ilmu ini.
Seperti telah kita catat, cara pandang dari mayarakat primi­tif terutama berlandaskan pada mitologi karena pengetahuan ilmiah tentang dunia pada saat itu masih bersifat minim. Secara bertahap, saat pengetahuan ilmiah makin mendalam, masyarakat mulai berpaling dari mitologi. Namun, mistisisme terus merupakan kekua­tan dominan dalam cara pandang masyarakat perbudakan dan feodal.
Dalam mistisisme dunia dijelaskan sebagai hasil kerja kekuatan spiritual, seperti dewa matahari, bulan, raja laut, dan seterusn­ya.  Jadi, sebelum ilmu itu ada, yang ada itu  filsafat. Karena itulah, untuk jangka waktu yang lama filsafat dianggap sebagai "ilmu dari semua ilmu", yang mencakup semua bidang pengetahuan manusia dan bisa memberikan tuntunan dengan mengacu pada "prinsip pertama".  Ketika muncul kemajuan ilmu yang hasilnya menentang filsafat yang ada, maka sering terjadi pertentangan tajam, mis­alnya dalam kasus Galileo, yang kemajuan ilmiahnya dalam memahami bumi dan alam semesta bertentangan dengan cara pandang Katolik.
Perkembangan kapitalisme, bagaimanapun menjadi landasan bagi kemajuan-kemajuan yang dahsyat dalam bidang ilmu. Pengembangan kekuatan produksi memungkinkan manusia mendapat pengetahuan ilmiah yang lebih besar tentang alam dan kemanusiaan. Terlepas dari semua kemajuan ilmu yang dicapai oleh kaum borjuis, filsafat borjuis secara umum menghadirkan ilmu dan filsafat sebagai dua hal yang berdiri terpisah. Misalnya, sekalipun para ilmuwan borjuis dituntut mencari fakta-fakta obyektif dalam kerja ilmiah mereka untuk menghasilkan sesuatu, pandangan filsafat mereka kadang sangat kentara masih diselubungi mistisisme (kepercayaan terhadap dukun, kekuatan spiritual, dan sebagainya). Lebih lan­jut, filsuf borjuis terus menghasilkan karya-karya abstrak (tentang sejarah, politik, etika, logika formal, dan  seterusnya) yang gagal menjelaskan sesuatu atau juga bertentangan dengan penemuan ilmu modern. Banyak kekeliruan mendasar yang muncul karena adanya pemisahan antara filsafat dan ilmu oleh kaum bor­juis. Secara khusus, kita temukan dominasi pragmatisme yang menyatakan  bahwa filsafat yang menyeluruh itu tidak diperlukan dan bahwa pengetahuan manusia hanya perlu dilandaskan pada akumu­lasi (pengumpulan) fakta-fakta ilmiah yang makin banyak;  kebutu­han akan tinjauan umum terhadap realitas sama sekali diabaikan.
Di pihak lain, kita menghadapi masalah dogmatisme yang melandas­kan diri pada "filsafat" tapi tidak didukung oleh pembuktian ilmiah. Kedua kecenderungan ini senantiasa gagal menjelaskan realitas secara utuh --sebuah proses yang memerlukan pemahaman tentang hubungan yang tepat, dan membuat filsafat bergantung pada penyelidikan ilmiah serta menggunakan kerangka yang disediakan filsafat untuk mengarahkan dan membimbing penyelidikan.
Inilah yang dicapai Marxisme dan menghasilkan revolusi dalam filsafat dengan mengubah hubungannya terhadap ilmu. Ini adalah revolusi yang sangat penting, yang digambarkan Engels sebagai "akhir dari semua filsafat dalam pengertian yang diterima sampai sekarang ini." Marx membuat filsafat bergantung pada ilmu, dengan begitu mematahkan praktek lama dari semua filsuf spekulatif yang mencoba menempatkan filsafat mereka di atas ilmu. Buktinya adalah ekonomi politik Marx, yaitu ilmu yang disusun dari penyelidikan empiris dan teoretik tentang ekonomi kapitalis. Dari ilmu ini, Marx menarik kesimpulan umum tentang masyarakat yang kemudian menghasilkan rumusan tentang hukum-hukum gerak masyarakat manu­sia, atau juga dikenal dengan nama materialisme historis. Pada saat bersamaan, materialisme historis menerapkan prinsip-prinsip umum dari materialisme dialektis kepada masyarakat manusia. Tapi titik berangkatnya tetap investigasi langsung terhadap kenyataan.
Materialisme dialektis harus dipahami sebagai tinjauan umum terhadap hukum-hukum gerak yang nyata di dunia. Jelas bahwa pemahaman terhadap hukum-hukum ini akan memudahkan kemajuan kerja ilmiah, tapi hukum-hukum itu sendiri tidak dapat menciptakan pengetahuan baru tanpa diterapkan dalam bidang ilmu tertentu.
Filsafat Marxis dengan begitu bersandar pada ilmu, membuat kesimpulan dari ilmu dan memasukkannya ke dalam cara pandang dunia dan metodologi yang konsisten. Filsafat Marxis sudah me­ninggalkan filsafat dalam pengertian spekulatif. Tidak ada lagi filsafat alam yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu alam. Hukum-hukum paling umum dari ilmu alam diungkapkan dalam materialisme dialektis. Tidak ada lagi filsafat sosial, yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu sosial (Marxisme-Leninisme). Hukum-hukum paling umum dari  ilmu sosial diungkapkan dalam materialisme historis.

III. Prinsip-prinsip Dasar dari Filsafat Marxis

Kita sudah membahas arti penting revolusioner dari filsafat Marxis, dengan mengamati isinya secara umum. Sekarang kita akan mengamati cara pandang ini lebih rinci, dengan menelaah komponen utama dari materialisme dialektis.
Pertama-tama filsafat Marxis mempertanyakan mana yang  lebih utama: benda (matter) atau ide? Singkatnya, aspek materialis dari materialisme dialektis menyatakan bahwa benda lebih utama dari ide. Dunia dapat dipahami, tapi kehadirannya terpisah dari kesa­daran manusia. Artinya, walaupun dipikir atau tidak, kenyataan benda itu tetap ada. Contohnya begini, sekalipun kita tidak memikirkan air yang senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah, kenyataan itu tetap berlangsung.Sekalipun kita tidak tahu bahwa matahari terbit di timur, kenyataan itu tetap berlangsung. Sekalipun keterangan ini cukup jelas, masalah benda versus ide ini tetap menjadi jantung pertentangan filsafat di masa lalu, dan berlanjut terus sebagai fokus perdebatan filsafat. Idealisme, cara pandang yang berlawanan, menyatakan bahwa hal yang ada di dunia itu semata benda dalam pikiran, dan bukan benda material
Dalam pandangan idealisme dunia hanya hadir dalam pikiran orang, atau dengan kata lain bahwa dunia diciptakan oleh kekuatan spiritual tertentu. Engels mengungkapkan perbedaan antara materialisme dan idealisme seperti ini:
"Masalah besar yang paling mendasar dari semua  filsa­fat, dan terutama filsafat dewasa ini, berkisar pada hubungan antara berpikir dan ada. Para filsuf terbagi dalam dua kubu menurut jawaban mereka terhadap persoa­lan tersebut. Mereka yang mengunggulkan ide di atas alam, dan dengan begitu pada akhirnya berasumsi tentang penciptaan dunia membentuk kubu idealisme. Yang lain, yang melihat alam lebih utama, tergabung dalam beberapa aliran materialisme. Ini adalah pengertian paling dasar dari kedua istilah itu, idealisme dan materialisme. (Engels, Ludwig Feuerbach, International Publishers, 1978, hlm. 20-1.)
Walau filsuf materialis sudah menulis sebelum mereka, Marx dan Engels lah yang pertama membuat elaborasi materialisme dari segala segi, sambil membuat kritik yang menyeluruh terhadap idealisme. Dalam pencarian mereka akan prinsip-prinsip yang melandasi proses sosial dan alam, jelas bagi Marx dan Engels bahwa idealisme hampir-hampir tidak menghadirkan pandangan ilmiah tentang dunia, dan nyata bisa berkembang hanya karena ketidakpe­dulian manusia terhadap kekuatan yang menghasilkan proses terten­tu. Idealisme, sebagai cara pandang sosial, bisa menuju fatalisme --idealisme sering mengatakan bahwa manusia tidak dapat mengubah dunia di hadapan mahluk spiritual yang luar biasa kekuasaannya. Di sisi lain idealisme dapat menuju pada voluntarisme--  pandan­gan bahwa keinginan manusia dapat mengubah segala sesuatu, tanpa mempedulikan kondisi materialnya. Jelas bahwa fatalisme dan voluntarisme mencerminkan kekacauan idealisme dalam memahami hubungan antara benda dan ide.
Idealisme adalah cara pandang filsafat yang dominan dalam perjalanan sejarah, karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian manusia sendiri. Kemunculan kapitalisme, yang beriringan  dengan perkembangan ilmu dan teknologi, banyak membantu dalam mengalah­kan kekuatan idealisme dan meletakkan basis bagi materialisme.
Banyak filsuf borjuis di masa awal kapitalisme adalah pemikir materialis. Pertentangan antara idealisme dan materlisme, bagaimanapun tetap berlangsung sampai saat ini. Ilmuwan borjuis tidak menerapkan materialisme secara konsisten terhadap kenyataan sosial, khususnya kalau menganalisis ilmu sosial (sejarah, antropologi  dan  sebagainya). Dalam bagian-bagian berikut akan kita amati pertentangan idealisme dan materialisme lebih cermat, dengan mengacu pada perdebatan di masa lalu dan juga masa kini.
Komponen penting kedua dalam filsafat Marxis adalah dialek­tika, yang mengajukan masalah, bagaimana dunia berkembang?  Dialektika menyatakan bahwa semua gejala, baik dalam alam dan masyarakat, pada dasarnya adalah proses yang terus bergerak dan saling berhubungan, ketimbang sesuatu yang statis dan terasing.
Pandangan ini menyatakan bahwa proses-proses ini adalah hasil dari kecenderungan yang secara inheren berlawanan dan bertentan­gan, yang menjadi asas dari semua gejala. Perkembangan dan hi­langnya gejala dilihat sebagai hasil dari pertentangan dan hasil dari kecenderungan yang berlawanan. Lebih lanjut, perubahan benda-benda bukan hanya secara kuantitatif, tapi benda-benda justru memasuki tahap-tahap perkembangan yang baru dan lebih tinggi sifatnya. Jadi, dalam alam semesta,  benda-benda muncul, berubah dan menghilang sebagai bagian dari proses yang berjalan terus.
Seperti materialisme dan idealisme, dialektika juga memiliki lawan, yaitu metafisika.  Metafisika memandang dunia sebagai kumpulan sejumlah entitas (satuan) yang terpisah, yang statis dan tidak bergerak. Metafisika melihat segala sesuatu terpisah satu sama lain, dan tidak melihat hubungan dari semuanya; perubahan pun hanya dianggap sebagai hasil pengembangan atau kemunduran yang sangat sederhana.
Jelas, metafisika dan dialektika bertentangan cara pandangn­ya. Marxisme memasukkan dialektika sebagai bagian dari cara pandangnya karena dialektika menjelaskan gerak dan saling hubun­gan antara gejala dalam alam semesta, dan juga menjelaskan peru­bahan kualitatif yang terjadi di dunia. Pandangan metafisis takkan dapat secara tepat menjelaskan alam dan masyarakat yang senantiasa bergerak dan terus menerus memunculkan gejala baru.
Lebih lanjut, penggunaan cara pandang metafisis akan menghasilkan penglihatan politik yang usang dan terbelakang. Jelas jika per­soalan sosial dan pertentangan kelas dapat dimengerti sebagai gejolak dan gelombang masyarakat statis, yang hanya dipengaruhi oleh kondisi eksternal di luar kekuasaan kita, maka tujuan akhir untuk mengubah masyarakat dan menciptakan tatanan baru menjadi tidak ada artinya.
Filsafat  Marxis-Leninis telah memasukkan pencapaian ilmiah dari masa sebelumnya dalam mengembangkan cara pandang materialisme dialektis. Marx dan Engels bersandar pada karya filsafat borjuis bernama Feuerbach, yang telah menempatkan cara pandang materialis pada titik yang amat maju, sebelum Marx dan Engels. Namun, materialisme Feuerbach ini terbatas dengan memandang perubahan sebagai sesuatu yang mekanis dan melihat gejala-gejala sebagai hal yang terpisah dan statis. Serupa dengan itu, Marx dan Engels juga berpijak pada karya filsuf borjuis yang bernama Hegel, yang melakukan hal yang sama dalam dialektika seperti dilakukan Feuerbach dalam materialisme. Namun lagi-lagi kekuran­gannya, teori Hegel tentang dialektika terbatas karena mengikat semua gejala pada satu sumber yang spiritual. Pencapaian Marx dan Engels yang dahsyat adalah pengembangan lebih lanjut dari karya-karya Feuerbach dan Hegel, dan penyatuan prinsip-prinsip materi­alisme dan dialektika ke dalam satu cara pandang dunia yang utuh, yakni materialisme dialektis. Seperti diperlihatkan mereka, unsur-unsur dari materialisme dialektis tidak dapat dipahami sepenuhnya jika dilihat sebagai dua unsur yang terpisah. Kita takkan berpikiran materialis jika meniadakan kehadiran perubahan dan perkembangan di dunia, dan kita juga takkan memahami peruba­han dan perkembangan ini dengan baik jika tidak menempatkan kondisi material sebagai hal yang menentukan. Marx dan Engels memperluas cara pandang filsafat ini dalam pemahaman mereka tentang alam, masyarakat dan pemikiran. (Karya filsafat Marx & Engels: The German Ideology,The Poverty of Philosophy, Dialectics of Nature, Ludwig Feuerbach, dan Anti-Duhring)
Lenin selanjutnya men­gembangkan hasil kerja Marx dan Engels. Ia menyambut tentangan borjuis terhadap materialisme dialektis pada zamannya, dan memberikan sumbangan khusus bagi teori Marxis tentang pengetahuan dan metode dialektis. Karya-karya filsafat Lenin adalah Materialism and Empirico-Criticism dan Philosophical Notebooks. Sebagai cara pandang dunia yang umum, filsafat Marxis-Leni­nis mengemukakan semua masalah dalam realitas sosial: alam, masyarakat dan pemikiran. Materialisme dialektis sering dibahas dalam konteks pandangan Marxis tentang alam. Dalam studi ini, kita juga akan mengamati penerapan filsafat dalam bidang pemikir­an dan masyarakat. Dalam pemikiran, kita akan menelaah teori Marxis tentang pengetahuan. Ini adalah teori pengetahuan yang materialis dan dialektis sekaligus, yang mulai dari pemahaman bahwa ide mencerminkan realitas material dan bahwa pikiran berkembang dalam cara dialektis, dari hal yang sederhana ke hal yang rumit. Teori pengetahuan adalah masalah filsafat yang pent­ing karena berurusan dengan hubungan antara pengetahuan dan pengalaman, dan karena itu menempatkan kerja teoretis kita dalam hubungannya dengan praktek politik.
Akhirnya, kita akan mengamati filsafat Marxis dalam bidang masyarakat manusia, yaitu materialisme historis. Di sini, materi­alisme historis juga dimulai dengan telaah terhadap landasan material,  yaitu cara manusia mengelola proses produksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, yang merupakan landasan munculnya tempat ide, politik dan kebudayaan. Materialisme historis juga berwatak dialektis karena melihat sejarah sebagai proses perubahan dan perkembangan. Dalam mempelajari materialisme his­toris, kita akan melihat bagaimana filsafat Marxis menyediakan bukan hanya pemahaman tentang masa lalu, tapi juga arah dan tuntunan bagi masa depan. Secara khusus, materialisme historis Marxis memungkinkan kita menemukan landasan eksploitasi kaptialis dan menunjuk jalan bagi pembangunan sosialisme. Ini adalah unsur-unsur dari filsafat Marxis-Lenin

=============================================================